Archive for the ‘Inilah Senjata Pengusung Aliran Sesat Syi’ah dan Praktisi Bid’ah’ Category

Isu Salafy-Wahabi Bagian dari Talbis Iblis

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِينَ مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ .

SALAH SATU UPAYA yang ditempuh para pengasong syi’ah laknatullah di dalam mengelabui umat Islam adalah menerapkan talbis al-iblis. Kecenderungan seperti itu menjadi sebuah keniscayaan, karena syi’ah itu konon menjadikan iblis sebagai guru besarnya. Dan yang namanya iblis itu pengikutnya tidak semuanya ghaib tetapi ada yang kongkrit, karena markas besarnya ada di mana-mana: di Iran, di Sampang, di Peta mburan, di Tenabang, di Jombang, di Rasil, di Bangil, di Bandung dan sebagainya.

Salah satu bentuk talbis al-iblis yang sering diterapkan pengasong syi’ah laknatullah adalah menjadikan pihak yang mereka benci (yang mereka sebut dengan ledekan Salafy-Wahabi), sebagai contoh musuh bersama yang harus diperangi oleh umat Islam dan orang syi’ah. Mereka menakut-nakuti umat Islam dengan hantu jejadian (hantu belau) yang mereka sebut Salafy-Wahabi.

Siapa hantu jejadian yang dinamakan Salafy-Wahabi oleh para pengasong syi’ah dan praktisi bid’ah ini? Menurut mereka, yang suka ngebom-ngebom itu Salafy-Wahabi. Mungkin yang mereka maksud adalah komunitas JI (Jama’ah Islamiyah) yang keberadaannya disangkal oleh Abu Bakar Ba’asyir hingga kini, meski eksponen JI sendiri sudah mulai membuka diri dan mengakui keberadaan JI.

Siapa lagi? Menurut pengasong syi’ah dan praktisi bid’ah, bahwa yang juga termasuk Salafy-Wahabi adalah mereka yang menolak tahlilan, muludan, melarang ngaji di kuburan.  Sedang amaliahnya: shalat tarawehnya 11 raka’at, shalat subuhnya nggak baca qunut, adzan shalat jum’atnya cuma sekali, dan sebagainya.

Jadi, kalau diterjemahkan dalam bentuk lembaga, maka Salafy-Wahabi yang ditengarai oleh para pengasong syi’ah dan praktisi bid’ah seperti itu dapat mengenai ormas Muhammadiyah, PKS, Persis, HTI, MMI (Majelis Mujahidin Indonesia), JAT (Jama’ah Ansharut Tauhid), Ikhwanul Muslimin (Tarbiyah) bukan Ikhwanul Muslimin versi tokoh syi’ah tuna netra Husin Ali Al-Habsyi; dan sebagainya. Juga sejumlah media bercorak Islam seperti arrahmah.com, muslimdaily.net, eramuslim, hidayatullah.com, nahimunkar.com dan sebagainya.

Para pengasong syi’ah dan praktisi bid’ah ini kalau sampai menggebyah-uyah (memukul rata), maka dianggapnya lembaga-lembaga tadi adalah Salafy-Wahabi. Lebih dari itu, kadang dikaitkan dengan tudingan: yang suka ngebom-ngebom. Padahal, faktanya tidaklah demikian. Memang ada di antara sebagian kecil umat Islam yang berpaham radikal, sebagaimana dikesankan terwakili oleh komunitas JI (Jama’ah Islamiyah). Namun dari kalangan JI sendiri, ada yang menolak kekerasan sebagaimana pernah terjadi selama ini sebagai bagian dari jihad.

Kalau toh dari sebagian komunitas JI dan lulusan Afghan mempersiapkan diri dengan keterampilan militer, penguasaan senjata perang dan sebagainya, menurut mereka itu bagian dari I’dad, persiapan perang untuk berjaga-jaga dari kemungkinan adanya serangan musuh kalangan kafir harby.

Faktanya, di Ambon, Maluku, umat Islam pernah diserang secara brutal oleh kafir harby nasrani (Januari 1999) saat suasana Idul Fitri masih terasa begitu kental. Juga berbagai kasus lain seperti kasus pembantaian di Tobelo (Desember 1999-Januari 2000), dan pembantaian terhadap komunitas Pesantren Walisongo (28 Mei 2000) di Poso. Konflik Poso sendiri sudah berlangsung sejak Desember 1998.

Namun adanya fakta radikalisme di kalangan Islam tadi, oleh pengasong syi’ah dan prkatisi bid’ah dimanfaatkan untuk memukul Muslimin yang anti syi’ah dan bid’ah dengan membuat stigma atau cap buruk. Itu di antaranya untuk memuluskan dan menjajakan paham sesat syi’ah laknatullah ataupun bid’ah-bid’ah yang dalam Islam dinyatakan sesat. Apalagi, visi seperti itu digemari sebagian penganut aliran sesat lainnya seperti komunitas JIL (Jaringan Islam Liberal). Begitu juga dengan badan yang punya kepentingan untuk memata-matai ummat Islam baik lokal maupun internasional (Amerika Serikat dan sekutunya) mempunyai visi yang sama dengan para pengasong aliran sesat syi’ah dan praktisi bid’ah.

Masyarakat Islam yang kritis dan terdidik, akan dengan mudah melihat kesamaan antara JIL (Jaringan Islam Liberal), AS dan sekutunya, pengasong syi’ah dan praktisi bid’ah ini dalam hal memaknai radikalisme agama yang terjadi di Indonesia. Mereka sama-sama menjadikan hantu jejadian bernama Salafy-Wahabi sebagai penyebabnya. Salafy-Wahabi menurut mereka adalah doktrin keagamaan yang keras sehingga perlu dijadikan musuh bersama.

Sementara itu, kalangan pengasong syi’ah dan praktisi bid’ah membonceng kondisi ini dengan menjajakan paham sesat syi’ah laknatullah dengan label Islam yang Sejuk, Mazhab Akhlakul Karimah, Islam yang Satu, Islam yang Damai, dan sebagainya. Itu semua sejatinya merupakan talbis al-iblis. Karena faktanya, radikalisme keagamaan yang terjadi di Indonesia tidak hanya dilakukan oleh sebagian komunitas JI tetapi juga oleh gembong syi’ah (lihat tulisan berjudul Syi’ah dan Rangkaian Kasus Peledakan di Indonesia http://nahimunkar.com/11471/syiah-dan-rangkaian-kasus-peledakan-di-indonesia/).

Aliran sesat syi’ah yang di Indonesia dijajakan dengan label agama yang damai, hanyalah tipuan belaka. Karena aslinya, aliran sesat syi’ah itu memerangi Islam, sebagaimana terjadi di Iran dan Suriah, bahkan di Sampang (Madura) sampai akhirnya mendapat perlawanan telak dari ulama dan jama’ah NU yang istiqomah melawan aliran sesat syi’ah laknatullah.

Bahkan, tudingan Salafy-Wahabi ini oleh propagandis aliran sesat syi’ah militan seperti Zen Al-Hady laknatullah (narasumber Radio Silaturahim alias Rasil AM720 di Cibubur Jakarta), ditempelkan kepada pemerintahan Saudi. Lebih jauh, dalam rangka memprovokasi umat Islam untuk membenci Saudi yang katanya Wahabi itu, Zen Al-Hady dalam salah satu dakwah online di Rasil mengatakan pemerintah Saudi pada masa-masa dahulu, pernah menggolongkan pemahaman keagamaan seperti dipraktekkan oleh NU sebagai sesat atau kafir  (Lihat tulisan berjudul Radio Silaturahim Pro Syi’ah? http://nahimunkar.com/10988/radio-silaturahim-pro-syiah/)

Benarkah Saudi produsen Salafy-Wahabi sebagaimana dituduhkan pengasong aliran sesat syi’ah dan praktisi bid’ah? Faktanya tidaklah demikian. Said Agil Siradj ketua umum PBNU yang menuntut ilmu di Ummul Quro Makkah hingga tingkat doktoral, kini menjadi pengasong aliran sesat syi’ah dan tetap dengan kegemarannya mempraktikkan bid’ah dholalah.

Habib Riziek pentolan FPI yang pernah menuntut ilmu di Ummul Quro Makkah selama tujuh tahun, ternyata tetap dengan praktik dan pemahaman keagamaan yang khas NU (maulidan, haul, tahlilan dan sebagainya). Namun, meski hanya tujuh hari di Iran (2006), ia sontak menjadi pembela aliran sesat syi’ah laknatullah.

Dari dua contoh di atas, terbukti lulusan Ummul Quro Makkah tidak berpaham Salafy-Wahabi, tetapi justru menjadi pengasong aliran sesat syi’ah dan praktisi bid’ah. Berbeda dengan mahasiswa lulusan Iran, yang hingga kini tetap konsisten menjadi pembela paham sesat syi’ah laknatullah.

Di tahun 1984, sosok bernama Ibrahim alias Jawad yang ‘hanya’ dua tahun sekolah di Iran, ketika pulang ke Indonesia sudah berani ngebom-ngebom, bahkan membiayai seluruh tindakan radikalnya itu. Doktrin apa yang diajarkan perguruan tinggi di Iran sehingga dengan waktu singkat sudah bisa menghasilkan sosok syi’ah yang militan?

Pertanyaan lainnya adalah, upaya apa yang dilakukan pemerintah Iran sehingga sosok lulusan Ummul Quro yang hanya berkunjung ke Iran selama tujuh hari saja, sudah jadi pembela aliran sesat syi’ah di Indonesia?

Boleh jadi karena doktrin, hipnotis, atau fulus. Penanaman doktrin jelas perlu waktu yang lama, sehingga tidak mungkin dalam waktu tujuh hari seseorang bisa menjadi pembela aliran sesat syi’ah militan. Begitu juga dengan hipnotis, yang berdaya-guna singkat, mungkin dalam hitungan jam atau hari saja efektifitasnya, tidak sampai bertahun-tahun. Yang paling manjur boleh jadi fulus.

Dengan fulus, sosok yang semula laki-laki bisa menjadi perempuan. Dengan fulus, sosok yang semula beragama tauhid bisa menjadi paganis. Dengan fulus, sosok yang semula berakidah ahlussunnah wal jama’ah bisa menjadi berpaham syi’ah laknatullah.

Para pengasong aliran sesat syi’ah itu bukan dalam rangka menegakkan kebenaran agama, mereka kaki tangan pemerintah zionis Iran yang ingin punya basis politik kuat di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, namun kemungkinan bagai buih di lautan. Mereka mengambil kesempatan untuk mengelabui umat agar tidak melihat secara akidah namun kenyataan secara politik. Itupun tidak utuh. Ancaman syi’ah terhadap kekuasaan negeri-negeri Islam dan Ummat Islam sangat nyata, namun dinafikan begitu saja. Yang dikemukakan adalah bahwa musuh kita itu Israel dan  Amerika. Padahal justru syiah itu bikinan Yahudi dan berkomplot dengan Yahudi sampai kini. Kalau tidak, kenapa Ahmadinejad presiden Iran yang syiah itu memberi hadiah kepada Ja’far Murtadha Al-‘Amili penulis buku terbaik yang intinya Masjid Al-Aqsha bukan di Palestina tapi di langit. Seorang ulama besar Syiah abad ini, yakni  Jafar Murtada Al Amili, telah menulis sebuah buku berjudul ”Ayna Masjid al-Aqsha?” (Di Manakah Masjid Al Aqsha?) yang intinya mengungkapkan bahwa keberadaan Masjid Al-Aqsha yang sesungguhnya bukanlah di bumi Al-Quds, melainkan di langit. (http://nahimunkar.com/10602/konflik-syiah-dengan-yahudi-ibarat-sesama-anjing-saling-cakar/)

Itu tentunya untuk menyenang-nyenangkan Yahudi Israel, dan menunjukkan tidak pedulinya terhadap Palestina bahkan tak peduli terhadap kebenaran dalam Islam. Memangnya ketika qiblat Ummat Islam untuk shalat masih ke arah Masjidil Aqsha (sebelum dinasakh ke arah Ka’bah) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kalau shalat mendongak menghadap ke langit? Justru yang ada adalah larangan shalat dengan menghadapkan wajah ke langit.  Itulah bukti bohongnya syekh syiah itu, namun karena untuk menyenang-nenangkan Yahudi, maka sampai presiden syiah Iran, Ahamadinejad pun memberi hadiah langsung kepadanya.

Itu belum ancaman keamanan dari segi narkoba dan ancaman rusaknya moral dari segi pelacuran tapi diatasnamakan agama yakni nikah mut’ah. Yang seperti ini padahal sangat berbahaya, namun oleh para pengasong syiah dan bid’ah tidak dianggap sebagai ancaman sama sekali. Sepi. Justru mereka sibuk menonjolkan tentang apa yang mereka sebut persatuan sesama Muslimin. Maka mereka pun menunjuk adanya upaya

upaya mendamai-damaikan Sunni-Syi’ah sebagaimana berlangsung sampai kini. Lalu upaya itu diberi cermin berupa kebijakan politik penguasa di sana-sini, yang pada hakekatnya urusan kebijakan politik yang tidak dapat dijadikan sebagai standar dalam memandang syiah itu sesat atau tidak. Sedangkan untuk urusan akidah, syi’ah sudah jelas tetap sesat menyesatkan, bukan bagian dari Islam, bahkan mengancam kehidupan.

Oleh karena itu, Ummat Islam perlu memegangi aqidahnya bahwa apapun kebijakan politik pemerintah Indonesia, bagi keyakinan Islam: syi’ah tetap sesat menyesatkan. Apapun kebijakan politik Saudi Arabia, bagi keyakinan Islam: syi’ah tetap sesat menyesatkan. Apapun kebijakan politik negara-negara Timur Tengah, bagi keyakinan Islam: syi’ah tetap sesat menyesatkan. Semoga Allah melaknat para tokoh Islam yang mencampur-adukkan akidah dengan kepentingan politik, serta ikut-ikutan menerapkan talbis al-iblis ke tengah-tengah umat Islam Indonesia sehingga berpotensi terjerumus ke dalam lembah kesesatan paham sesat syi’ah.

Para pengasong aliran sesat syi’ah itu berupaya agar syi’ah diterima sebagai salah satu mazhab di dalam Islam. Selama ini, di dalam masyarakat Islam, ada empat mazhab yang sudah diakui dunia, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Nah, pengasong aliran sesat syi’ah menggunakan jalur politis untuk memasukkan Mazhab Ja’fari sebagai mazhab kelima.

Mazhab Ja’fari itu sebenarnya sama dengan syi’ah Imamiyah atau Itsna ‘Asyariyah (imam dua belas) yang berkembang di Iran. Syi’ah ini, mengkafirkan siapa saja yang tidak beriman kepada keimaman (al-imamah) yang ada dalam rukun iman mereka. Jadi, mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan, Hanbali itu termasuk yang dikafirkan oleh syi’ah Ja’fari ini. Lha, oleh pengasong syi’ah laknatullah, syi’ah Ja’fari ini minta diakui sebagai mazhab kelima di dalam Islam (sebagai mazhab Ja’fari).

Di sinilah letak keculasan para pengasong syi’ah. Umat Islam dipaksa-paksa menerima Ja’fari sebagai mazhab Islam, sementara Ja’fari sendiri mengkafirkan umat Islam. Seharusnya umat Islam memerangi Ja’fari yang sudah mengkafirkan umat Islam, bukan menerimanya sebagai bagian dari mazhab Islam.

Zen Al-hady seorang pentolan yang mengusung syiah di Condet Jakarta, dalam serangkaian propagandanya selalu menekankan agar umat Islam tidak menjadikan mazhab sebagai agama, dan sebagainya. Namun sambil menghimbau itu ia justru seperti meng-AGAMA-kan mazhab Ja’fari. Begitulah watak pengasong syi’ah. Bertindak munafik.

Ironisnya, ketika pengasong syi’ah konsisten dengan kesesatannya, dan tetap gigih menjadikan isu memojokkan Salafy-Wahabi sebagai pintu masuk menjajakan paham sesatnya; pada saat bersamaan ada sosok yang oleh pengasong syi’ah diledekin sebagai Salafy-Wahabi justru terlihat runtang-runtung dengan mesra bersama peledeknya. Bahkan di antara sesama mereka (yang diledekin sebagai Salafy-Wahabi oleh pengasong syi’ah plus praktisi bid’ah), justru cenderung berpecah-pecah, berbantah-bantah. Untuk memaknai thoghut saja, mereka saling serang tak ada kesepakatan dan kearifan.

Makanya, pengasong syi’ah dan praktisi bid’ah merasa seperti di atas angin, dan merasa superior dengan praktik talbis al-iblis yang menjadikan isu Salafy-Wahabi sebagai kambing hitam dan hantu jejadian radikalisme agama di Indonesia. Astaghfirullah…

Menghadapi masalah seperti ini, walau selicik apapun mereka (para pengasong syiah dan pengusung bid’ah), namun sebenarnya sudah ada petunjuk-petunjuk dalam Islam. Kalau kita melihat sejarah Islam, syi’ah itu dalam membuat fitnah adalah jagonya. Para sahabat dan bahkan isteri-isteri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saja difitnah secara keji oleh orang-orang syi’ah. Dari dulu hingga kini. Masih pula mereka lontarkan apa yang mereka sebut do’a namun isinya laknat lagi. Nah, kini  apalagi hanya orang sekarang yang berusaha untuk mengikuti Islamnya para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka untuk memfitnahnya itu sudah merupakan hal yang lebih gampang  dan sangat mudah bagi syi’ah.

Dari sini apakah kita harus mengawasi dan diam saja ‘demi menghindari fitnah’?

Fitnah apakah yang lebih besar dari pada menuduh generasi teladan sebagai masyarakat ‘bejat dan pendusta’?!?

Marilah kita merenungi sama-sama perkataan bijak salah seorang sahabat yang bernama Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu:

“إذا لَعَنَ آخرُ هذه الأمَّة أوَّلها، فَمَنْ كان عنده علمٌ فليظْهره، فإنَّ كاتم ذلك ككاتم ما أُنزل على محمدٍ صلى الله عليه وسلم”.

“Bila umat Islam di akhir zaman mulai melaknat pendahulunya, maka siapa saja yang berilmu hendaklah menunjukkan ilmunya. Bila ia menyembunyikan, maka ia seperti yang menyembunyikan ajaran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Nisbat riwayat ini kepada Nabi sanadnya dha’if, namun riwayat ini adalah dari perkataan Jabir bin Abdillah)

Bisakah Anda menangkap kedalaman makna ucapan ini?

Hujatan terhadap generasi sahabat bukan sekedar hujatan terhadap mereka yang telah tiada… tidak juga seperti ucapan sebagian orang bahwa: “Hujatan tersebut tidak berbahaya bagi para sahabat, karena mereka telah masuk Surga meski Syi’ah tidak suka.” Akan tetapi bahaya besar di balik ucapan ini ialah karena hujatan terhadap para sahabat pada hakikatnya adalah hujatan terhadap Islam secara langsung. Sebab kita tidak mendapatkan ajaran Islam kecuali melalui para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Kalau berbagai hujatan yang menimbulkan keraguan akan akhlak, niat, dan perbuatan para sahabat dibiarkan; lantas agama model apa yang akan kita anut?

Hilanglah agama kita kalau kita terima semua itu… hilanglah hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajaran beliau.

(http://nahimunkar.com/14988/awas-syiah-mengancam-kita/)

Selanjutnya kini, kalau fitnah – berupa pemojokan dengan sebutan salafi wahabi dan aneka fitnah secara dusta– terhadap generasi yang mengikuti para sahabat  itu kita diamkan saja padahal kita tahu, lantas apakah kita rela aqidah Ummat Islam ini diganti dengan aliran sesat syi’ah dan bermuatan aneka bid’ah?

وَاَللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ . وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ .

Ilustrasi: voa-islam.com

(haji/tede/nahimuknar.com)