Posts Tagged ‘Emha Ainun Nadjib’

http://i2.wp.com/nahimunkar.com/wp-content/uploads/2012/05/toroblus-demo_865270932.jpg?fit=0%2C0

BEIRUT  – Dinas intelijen Jerman mengungkapkan sejumlah data tentang keterlibatan aktif sejumlah perwira tinggi militer Iran dan komandan lapangan kelompok Syiah Hizbul Lata Lebanon dalam kerusuhan antara kelompok Syiah dan muslim sunni di Tripoli, Lebanon.

Harian As-Siyasah Kuwait pada Kamis (17/5/2012) menurunkan laporan dinas intelijen Jerman yang diserahkan kepada dinas intelijen Euro. Laporan itu menyebutkan data-data tentang truk-truk sipil bermuatan penuh senjata, mulai meriam Howitzer kaliber 80 dan 120, pelontar granat RPG dan Enirga, serta beragam artileri paling modern lainnya. Truk-truk bermuatan senjata bergerak ke gudang-gudang persenjataan kelompok Syiah di Jabal Muhsin, Tripoli, Lebanon Utara.

Laporan itu mengungkapkan pengangkutan dan penyimpanan persenjataan berat dalam jumlah besar itu dipimpin langsung oleh komandan lapangan milisi Syiah Hizbul Lata Lebanon dan sejumlah perwira tinggi militer Iran.

Selain truk, kelompok Syiah juga mempergunakan sejumlah bis sipil untuk mengangkut persenjataan lainnya dalam jumlah sangat besar. Bis-bis penuh senjata tersebut bergerak menuju gudang-gudang persenjataan tiga kelompok Syiah di Tripoli; Hizbul Ba’ts, Hizbul Lata dan Hizbus Suri al-Qaumi al-Ijtima’i.

Pada Kamis (17/5/2012) konflik kembali pecah antara penduduk mayoritas muslim suni di Bab Tabanah melawan penduduk mayoritas Syiah di Jabal Muhsin, Tripoli. Media massa setempat melaporkan sedikitnya satu orang muslim sunni gugur dan tujuh lainnya terluka akibat bentrokan tersebut. Konflik yang melibatkan persenjataan berat kelompok Syiah telah berlangsung sejak enam hari sebelumnya.

Para pengamat milliter mengingatkan pemerintah Lebanon untuk segera meredam konflik antara kedua kubu. Mereka memperkirakan rezim Suriah dan Iran didukung kelompok Syiah Lebanon sengaja mengobarkan konflik di wilayah Tripoli. Konflik tersebut bisa memecah belah tentara nasional Lebanon yang berasal dari kedua unsur. Jika kerusuhan dan perpecahan militer terjadi, Suriah dan Iran akan mudah mengendalikan situasi Lebanon untuk kepentingan mereka sendiri.

(muhib almajdi/arrahmah.com)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

PADA HARI SELASA tanggal 27 Maret 2012, sejumlah tokoh MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) bersilaturrahim ke kantor MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat, yang terletak di jalan Proklamasi nomor 51, Jakarta Pusat. Pada kesempatan itu, Farid Ahmad Okbah pakar syi’ah dari MIUMI membeberkan bukti-bukti kesesatan syi’ah, setidaknya yang terjadi di Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, salah seorang pengurus MUI Pusat KH Anwar Abbas yang turut hadir mengatakan, sejauh ini memang ada upaya penjinakkan yang dilakukan pemerintah Iran kepada tokoh-tokoh Islam Indonesia dengan cara mengundang mereka datang ke Iran. Penjinakkan yang dimaksud, tentunya berkenaan dengan sikap tegas umat Islam yang memposisikan paham sesat syi’ah sebagai induk kesesatan, apapun jenis sektenya.

Upaya penjinakkan itu, seperti mendapat pembenaran dari Habib RS, yang pada 08 Mei 2006 lalu pernah diundang ke Iran oleh Ayatullah Taskhiri (Taqrib bainal Mazahib). Saat itu Habib RS tidak sendiri, ia bersama sejumlah ‘tokoh’ Islam seperti Dr Jose Rizal (Ketua MER-C), Dr Abdul Mukti (saat itu Ketua Pemuda Muhammadiyah), Ir M Iqbal (saat itu Wakil Sekjen Nahdlatul Ulama), penyanyi Hadad Alwi, ustadz Ustman Syahab Lc, dan Hasan Dalil Lc.

Pembenaran dimaksud, dapat ditemukan pada materi jawaban Habib RS saat diwawancarai oleh majalah SYIAR, Mei 2009, sebagai berikut:

“Ada beberapa kesan yang saya dapat dari kunjungan saya ke Iran. Sebagai Sunni Syafi’i, tentu kita punya pandangan sendiri tentang Syiah. Namun demikian, antara memandang Syiah dari jauh dengan memandang Syiah dari dekat itu beda. Dari jauh, Syiah itu begini dan begitu. Sedangkan bila dilihat dari dekat, ternyata tidak seperti itu. Setidaknya, kunjungan saya (ke Iran -red) itu akan melunturkan kebekuan. Tadinya mungkin kaku dan anti-dialog. Tapi setelah kunjungan itu, agak sedikit lebih cair dan terbuka. Yang kemarin tidak mau mendengar sekarang jadi mau mendengar. Yang kemarin mau menyerang kini mengajak dialog.”

Meski jawaban Habib RS (2009) atas pertanyaan yang diajukan majalah SYIAR tidak dimaksudkan sebagai ‘pembenaran’ terhadap dugaan yang dikhawatirkan KH Anwar Abbas (2012),  namun begitulah faktanya. Artinya, dugaan dan kekhawatiran KH Anwar Abbas sesungguhnya merupakan kenyataan yang sedang berlangsung. Dengan kata lain, upaya penjinakkan itu memang benar-benar terjadi.

Cenderung Syi’ah

Melalui berbagai pernyataannya yang pernah dipublikasikan berbagai media massa, tentunya bekenaan dengan syi’ah, sikap Habib RS bisa dinilai cenderung kepada syi’ah. Misalnya, ketika Habib RS diwawancarai oleh M. Turkan dari Islam Alternatif (Islat). Wawancara berlangsung di sela-sela silaturrahim dan seminar bertema Pergerakan Islam di Indonesia yang berlangsung di Kampus Universitas Imam Khomeini Qom, Iran, Mei 2006.

Ketika M. Turkan dari Islam Alternatif bertanya tentang kaitan konsep amar ma’ruf yang menjadi dasar bertindak FPI dengan tindakan penghantaman terhadap paham sesat Ahmadiyah, ketika itu Habib RS menjawab: “Kalau Ahmadiyyah itu memang kita harus bedakan, karena ada perbedaan dan ada penyimpangan. Kalau antara mazahib-mazahib Islamiyyah seperti Syafi’i, Maliki, Hambali, Hanafi, termasuk Ja’fari, dan lain sebagainya, ini kita anggap termasuk di dalam lingkar perbedaan yang kita harus tenggang rasa juga berdialog…”

Jawaban Habib RS seperti itu, jelas khas jawaban para penganut syi’ah yang masih belum mau berterus terang dengan ke-SYI’AH-annya. Pertama, mereka memposisikan paham sesat syi’ah sebagai salah satu madzhab dalam Islam, yaitu madzhab Ja’fari. Kedua, perbedaan Islam (ahlussunnah wal jama’ah) dengan syi’ah (madzhab Ja’fari) masih bisa diselesaikan dengan dialog.

Padahal, kesesatan Ahmadiyah juga sebanding saja dengan kesesatan syi’ah. Ahmadiyah (Qadyan) selain menjadikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi setelah Nabi Muhammad SAW dan menjadikan TAZKIRAH sebagai kitab suci, tidak ada menjelek-jelekkan sahabat, memaki-maki sahabat, mengkafirkan sahabat, mengatakan malaikat Jibril salah alamat ketika memberikan wahyu yang seharusnya kepada Ali bin Abi Thalib, tetapi kesasar kepada Muhammad bin Abdullah SAW.

Dalam kasus Ahmadiyah, Habib RS (sikapnya) sebagaimana Rabithah Alam Islami (Liga Muslim Sedunia), tidak perlu repot-repot membedakan antara Qadiyani dan Lahore yang ‘hanya’ menjadikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai mujadid semata. Pokoknya, Ahmadiyah itu sesuatu yang berada di luar Islam. Begitu juga dengan Inkarussunnah, Islam Jama’ah, dan sebagainya dinyatakan sudah keluar dari Islam.

Namun ketika membahas soal syi’ah, standard yang digunakan Habib RS berbeda: “…kita tidak bisa menggeneralisasi semua Syiah sesat atau semua Syiah tidak sesat…”

Perlu difahami, kalimat seperti yang dilontarkan Habib RS  ini, sering digunakan oleh kalangan pendukung syi’ah yang masih enggan mengakui ke-SYI’AH-annya, misalnya sebagaimana disampaikan oleh ustadz Husein Alatas (salah satu narasumber Radio Silaturahim/ Rasil) kepada jama’ahnya.

Di Radio Silaturahim (Rasil) selain ada ustadz Husein Alatas yang enggan disebut syi’ah, juga ada ustadz Zein Al-Hadi, salah satu ustadz syi’ah yang berkawan baik dengan Habib RS (menurut pengakuan RS sendiri): “…Ini sebagai gambaran umum dari apa yang saya terima dari Ustadz Hassan Daliel, Ustadz Othman Shihab, Ustadz Agus Abubakar, Ustadz Husein Shahab, Ustadz Zein Alhadi, dan banyak lagi ustadz-ustadz Syiah yang tidak perlu saya sebutkan satu persatu…” (wawancara dengan SYIAR).

Rasil sendiri dalam rangka menepis dugaan sebagian kalangan bahwa radio tersebut pro syi’ah, menyebutkan sejumlah tokoh yang dianggapnya dapat meyakinkan umat bahwa Rasil tidak pro syi’ah. Antara lain disebutkan Habib RS dan Jose Rizal Mer-C, sebagai narasumber mereka. Upaya itu jelas sia-sia. Karena, umat sudah sejak lama menduga kedua tokoh tadi cenderung kepada syi’ah. Jadi, penyebutan nama-nama tadi hanya memperkuat dugaan umat bahwa Rasil memang benar-benar pro syi’ah.

Adanya dugaan sebagian kalangan terhadap Habib RS yang dikatakan cenderung kepada syi’ah, sudah ada sejak beberapa tahun belakangan. Bahkan, dugaan itu sudah muncul sejak 1998, ketika Habib RS namanya mencuat ke angkasa tinggi berkat kiprahnya yang melaksanakan ‘amar ma’ruf nahimunkar.

Pada tahun 2010, di situs resmi FPI, pernah dipublikasikan penjelasan bahwa FPI adalah organisasi amar ma’ruf nahimunkar yang berasaskan Islam dan ber-aqidah ahlussunnah wal jama’ah serta bermadzhab fiqih Syafi’i,  bukan syi’ah atau wahabi.

Dalam pandangan FPI, syi’ah ada tiga golongan, yaitu Ghulat, Rafidhoh, dan Mu’tadilah. Menurut FPI, syi’ah Ghulat tergolong kafir dan wajib diperangi. Karena, keyakinannya sudah menyimpang dari ushuluddin yang disepakati semua madzhab Islam. Misalnya, menjadikan Ali bin Abi Thalib RA sebagai nabi, bahkan Tuhan. Juga, meyakini bahwa Al-Qur’an sudah dirubah-ditambah-dikurangi (Tahrif).

Sedangkan syi’ah Rafidhoh, menurut FPI, meski tidak mempunyai keyakinan yang sama dengan syi’ah Ghulat, namun golongan ini cenderung melakukan penghinaan, penistaan, pelecehan secara terbuka baik lisan atau pun tulisan terhadap para Sahabat Nabi SAW seperti Abu Bakar RA dan Umar RA atau terhadap para isteri Nabi SAW seperti ‘Aisyah RA dan Hafshah RA. Syi’ah golongan ini menurut FPI hanya diberi label sesat (bukan kafir), namun wajib dilawan dan diluruskan.

Golongan syi’ah yang ketiga, menurut FPI, adalah syi’ah mu’tadilah yang hanya mengutamakan Ali bin Abi Thalib ra di atas para Shahabat Nabi lainnya (Abu Bakar ra, Umar Ibnul Khattab ra, Utsman bin Affan ra), dan lebih mengedepankan hadits riwayat ahlul bait daripada perawi hadits lainnya. Meski begitu, golongan syi’ah ketiga ini tidak segan-segan mengajukan kritik terhadap sejumlah sahabat secara ilmiah dan elegan, begitu menurut FPI. Nah, syi’ah mu’tadilah inilah yang disebut sebagai salah satu madzhab dalam Islam (madzhab Ja’afari) yang konon juga diakui eksistensinya oleh Prof. DR. Yusuf Qardhawi. Kelompok syi’ah ini menurut FPI sebaiknya dihadapi dengan da’wah dan dialog, bukan dimusuhi.

Bila dari penjelasan FPI soal syi’ah yang begitu akomodatif, kemudian ada sekelompok orang yang membanding-bandingkannya dengan sikap FPI terhadap Ahmadiyah, kemudian mereka merasakan adanya standard ganda yang diterapkan FPI di dalam menyikapi kedua paham sesat tadi, maka jangan heran dari situ lahir cibiran atau tudingan bahwa FPI tebang pilih.

Penggolongan syi’ah sebagaimana teruraikan di atas, (disengaja ataupun tidak) justru menguntungkan penjaja paham sesat syi’ah. Karena, dua golongan di atas (Ghulat dan Rafidhoh) bisa saja mengaku-ngaku sebagai syi’ah mu’tadilah. Apalagi di dalam keimanan syi’ah konsep taqiyah merupakan ibadah. Akibatnya, umat Islam bakalan dikibulin terus oleh syi’ah jika tanpa waspada mau menerima syi’ah mu’tadilah (madzahab Ja’fari, menurut pembagian bikinan ini) sebagai bagian dari Islam.

Buktinya, Jalaluddin Rakhmat yang mengaku bukan syi’ah tetapi Su-Syi, dan merupakan tokoh utama Ijabi (ahlul bait), ternyata dalam pemahaman dan sikapnya tak bisa melepaskan diri dari berkeyakinan Ghulat dan bersikap Rafidhah. Hingga buku karangan Jalaluddin Rakhmat  pun dilarang di Malaysia, yakni berjudul “Tafsir Sufi Al-fatihah Mukadimah” terbitan PT remaja Rosdakarya, Bandung. (Tiga Buku Syiah Terbitan Indonesia Dilarang di Malaysia, 20 March 2012 | Filed under: Aliran Sesat,Dunia Islam,Featured,Syi’ah | Posted by: nahimunkar.com http://nahimunkar.com/11729/tiga-buku-syiah-terbitan-indonesia-dilarang-di-malaysia/)

Penjelasan dan penggolongan syi’ah sebagaimana tersebut di atas hanya memperkuat dugaan bahwa Habib RS memang cenderung kepada syi’ah. Kesesatan syi’ah yang sedemikian dahsyatnya masih bisa ia tolerir, sementara itu, kesesatan Ahmadiyah dan lain-lainnya (yang menurut pemahaman umat Islam sebanding dengan kesesatan syi’ah) disikapi begitu gegap gempita. (Ini sama sekali bukan karena membela Ahmadiyah dan lainnya, tetapi untuk membandingkan saja. Di samping sikap yang tebang pilih dalam menghadapi aliran sesat, masih pula perlu dipertahnyakan: Mana mungkin orang yang tidak cenderung kepada kesesatan (syiah) berkarib-karib dengan pentolan-pentolan syiah. Dari situ saja sebenarnya sudah jelas dan terang).

Penggolongan syi’ah tersebut di atas bagi sebagian kalangan justru akan ditafsirkan sebagai strategi dagang para penjaja paham sesat syi’ah. Mula-mula ditawarkan syi’ah yang mu’tadilah. Kelak kalau sudah berhasil, dinaikkan peringkatnya untuk menerima Rafidhoh. Terus ditingkatkan lagi hingga bisa menerima Ghulat. Dan bagaimanapun, syiah yang di sini jelas-jelas dari Iran yang di sana para ulama sunni (ahlus sunnah) dibunuhi, masjid-masjidnya dihancurkan dan madrasah-madrasahnya ditutup. KH Athian Ali da’I dari Bandung yang pernah ke Iran mengatakan, pihak kedutaan Indonesia di Teheran mau mengadakan shalat Jum’at saja dihalang-halangi di sana. Hingga hanya dapat dilaksanakan sekitar 20-an orang di dalam kedutaan itu, karena memang dihalangi.

Lagi pula, bila syi’ah (mu’tadilah) itu sama saja dengan Islam, mengapa mereka harus mengutamakan Ali bin Abi Thalib ra dibanding Khulafaur Rasyidin lainnya? Mengapa pula mereka lebih mengutamakan hadits riwayat ahlul bait ketimbang perawi hadits lainnya. Lantas, yang mereka maksud dengan ahlul bait itu apakah termasuk ‘Aisyah ra istri Rasulullah? Dalam pemahaman umat Islam yang belum terkontaminasi paham sesat syi’ah laknatullah, ahlul bait adalah keluarga Nabi Muhammad SAW, yang terdiri dari Nabi Muhammad itu sendiri, istri-istri beliau, dan anak-anak beliau dan kerabat beliau. Istilah Ahlul Bait adalah istilah syar’i dan bermakna istri dan kerabat dekat beliau dari keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas yang merupakan keluarga bani Hasyim. Berikut  ini kutipan dari sebuah uraian tentang Ahlul Bait.

SIAPAKAH AHLUL BAIT ITU ?
Sebelum kita membahas tentang Ahlul bait secara detail dan yang memusuhi meraka, sepantasnyalah kita mengenal terlebih dahulu siapakah sebenarnya Ahlul bait itu ?

Secara bahasa, kata الأَهْل berasal dari أَهْلاً وَ أُهُوْلاً أَهِلَ – يَأهَلُ = seperti أَهْلُ المْكَاَن berarti menghuni di suatu tempat [1] . أَهْلُ jamaknya adalah أَهْلُوْنَ وَ أَهْلاَتُ وَ أَهَاِلي misal أَهْلُ الإِسْلاَم artinya pemeluk islam, أَهْلُ مَكَّة artinya penduduk Mekah. أَهْلُ الْبَيْت berarti penghuni rumah [2]. Dan أَهْلُ بَيْتِ النَّبي artinya keluarga Nabi yaitu para isrti, anak perempuan Nabi serta kerabatnya yaitu Ali dan istrinya.[3]

Sedangkan menurut istilah, para ulama Ahlus Sunnah telah sepakat tentang Ahlul Bait bahwa mereka adalah keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diharamkan memakan shadaqah [4]. Mereka terdiri dari : keluarga Ali, keluarga Ja’far, keluarga Aqil, keluarga Abbas [5], keluarga bani Harist bin Abdul Muthalib, serta para istri beliau dan anak anak mereka.[6]

Memang ada perselisihan, apakah para istri Nabi termasuk Ahlul Bait atau bukan ? Dan yang jelas bahwa arti Ahlu menurut bahasa (etimologi) tidak mengeluarkan para istri nabi untuk masuk ke Ahlul Bait, demikian juga penggunaan kata Ahlu di dalam Al-Qur’an dan hadits tidak mengeluarkan mereka dari lingkup istilah tersebut, yaitu Ahlul Bait.

Allah berfirman :

وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Dan taatlah kalian kepada Allah dan rasulNya,sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan rijs dari kalian wahai ahlul bait dan memberbersihkan kalian sebersih-bersihnya. [Al-ahzab : 33]

Ayat ini menunjukan para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk Ahlul Bait. Jika tidak, maka tak ada faidahnya mereka disebutkan dalam ucapan itu (ayat ini) dan karena semua istri Nabi adalah termasuk Ahlul Bait sesuai dengan nash Al Quran maka mereka mempunyai hak yang sama dengan hak-hak Ahlul Bait yang lain. [7]

Berkata Ibnu Katsir: “Orang yang memahami Al Quran tidak ragu lagi bahwa para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam Ahlul Bait [8]” dan ini merupakan pendapat Imam Al-Qurtuby, Ibnu Hajar, Ibnu Qayim dan yang lainnya. [9]

Ibnu Taimiyah berkata: “Yang benar (dalam masalah ini) bahwa para istri Nabi adalah termasuk Alul Bait. Karena telah ada dalam hadits yang diriwayatkan di shahihaini yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari lafadz bershalawat kepadanya dengan:

الَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ أَزْوَاجِهِ وَ ذُرِّيَتِهِ (صحيح البخارى)

Ya Allah berilah keselamatan atas muhammad dan istri-istrinya serta anak keturunannya. [Diriwayatkan Imam Bukhari]

Demikian juga istri Nabi Ibrahim adalah termasuk keluarganya (Ahlu Baitnya) dan istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Luth juga termasuk keluarganya sebagaimana yang telah di tunjukkan oleh Al Quran. Maka bagaimana istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam [2] bukan termasuk keluarga beliau ? !

Ada pula sebagian ulama yang berpendapat bahwa keluarga Nabi adalah para pengikutnya dan orang-orang yang bertaqwa dari umatnya, akan tetapi pendapat ini adalah pendapat yang lemah dan telah di bantah oleh Imam Ibnu Qoyyim dengan pernyataan beliau bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan bahwa Ahlul Bait adalah mereka yang di haramkan shadaqah.

PERBEDAAN AHLUL BAIT DALAM ISTILAH SYAR’I DENGAN VERSI SYIAH ?
Setelah kita mengetahui siapa sebenarnya Ahlul Bait itu, perlu kita pahami bahwa istilah Ahlu Bait merupakan istilah syar’i yang dipakai dalam Al Quran maupun As Sunnah dan bukan merupakan istilah bid’ah. Allah berfirman tentang para istri Nabi :

وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Dan taaitlah kalian kepada Allah dan RasulNya, sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan memberbersihkan kamu sebersih-bersihnya. [Al-Ahzab : 33]

Berkata syaikh Abdurrahman As Sa’di : Makna rijs adalah (Ahlul bait di jauhkan) segala macam gangguan, kejelekan dan perbutan keji.[13]

Allah berfirman memerintah para istri Nabi :

وَاذْكُرْنَ مَايُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ ءَايَاتِ اللهِ وَالْحِكْمَةِ

Dan ingatlah apa yang di bacakan di rumahmu dari ayat Allah dan hikmah (Sunnah Nabimu). [Al Ahzab : 34]

Ibnu Katsir berkata: “yaitu kerjakanlah dengan apa yang di turunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasulnya berupa Al Quran dan As sunnah di rumah-rumah kalian.

Berkata Qotadah dan yang lainnya “dan ingatlah dengan nikmat yang di khususkan kepada kalian dari sekalian manusia yaitu berupa wahyu yang turun ke rumah-rumah kalian tanpa yang lain. [14]

Dalam sebuah hadis juga di jelaskan :

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قاَلَ قاَمَ رَسُوْلُ اللهِ صلىالله عليه و سلم يَوْمًا خَطِيْبًا (فَقَالَ): أَذْكُرُكُمُ اللهَ فيِ أَهْلِ بَيْتيِ –ثلاثا- فَقَالَ حُصَيْنُ بْنُ سَبْرَةَ وَمَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ يَا زَْيدُ أَلَيْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ قَالَ: إِنَّ نِسَاءَهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَلَكِنْ أَهْلُ بَيْتِهِ مَنْ حَرُمَ الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ قاَلَ وَمَنْ هُمْ قَالَ هُمْ آَلُ عَلِيْ و آَلُ عُقَيْلٍ وَ آلُ الْعَبَاسِ قَالَ أَكُلُّ هَؤُلاَءِ حَرُمَ الصَّدَقَة ؟ قَالَ: نَعَمْ (صحيح مسلم 7/122-123)

Dari Zaid bin Arqom bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari berkhutbah: Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baitku (sampai tiga kali) maka Husain bin Sibroh (perawi hadits) bertanya kepada Zaid “Siapakah Ahlul Bait beliau wahai Zaid bukankah istri-istri beliau termasuk ahlil baitnya? Zaid menjawab para istri Nabi memang termasuk Ahlul Bait akan tetapi yang di maksud di sini, orang yang di haramkan sedekah setelah wafatnya beliau. Lalu Husain berkata: siapakah mereka, beliau menjawab: “Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas.  Husain bertanya kembali Apakah mereka semuanya di haramkan zakat ? Zaid menjawab Ya… [Shahih muslim 7/122-123]

Dari sini jelas penggunaan istilah Ahlul Bait adalah istilah syar’i dan bermakna istri dan kerabat dekat beliau dari keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas yang merupakan keluarga bani Hasyim

Sedangkan Ahlul Bait menurut orang Syiah hanyalah sahabat Ali, kemudian anaknya, Hasan-Husein bin Ali dan putrinya yaitu Fatimah, mereka dengan terang-terangan mengatakan bahwa semua pemimpin kaum muslimin selain Ali dan Hasan adalah thogut walaupun mereka menyeru kepada kebenaran. Orang Syiah menganggap bahwa Khulafaur rasyidin adalah para perampas kekuasaan Ahlul Bait sehingga mereka mengkafirkan semua Khalifah, bahkan semua pemimpin kaum muslimin [15]. Tidak di ragukan lagi, bahwa mereka telah menyimpang dari Aqidah yang lurus, yaitu Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
Maka kita katakan bahwa membatasi Ahlul bait itu hanya terbatas pada Ali, Hasan- Husein bin Ali serta Fatimah, yang keduanya adalah anak Sahabat Ali adalah merupakan batasan yang tidak ada sandaran yang benar baik dari Al-Quran maupun As sunnah. Sesungguhnya pembatasan ini adalah merupakan perkara bid’ah yang tidak di kenal oleh ulama salaf sebelumnya.

Anggapan ini sebenarnya hanyalah muncul dari hawa nafsu orang-orang Syiah karena dendam kesumat serta kedengkian mereka terhadap Islam dan Ahlul Bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga orang- orang Syiah sejak zaman sahabat tidak menginginkan kejayaan Islam dam kaum muslimin, dan di kenal sebagai firqoh yang ingin merongrong Islam dan ingin menghancurkannya dengan segala cara dan salah satu cara mereka adalah berlindung di balik slogan cinta ahli bait Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun secara hakikat sebenarnya merekalah yang membenci dan memusuhi mereka.[i]

***

Indikasi lain yang menunjukkan bahwa Habib RS cenderung kepada syi’ah bisa ditemukan dari pernyataan dia ketika diwawancarai oleh Islam Alternatif: “…antum perlu tahu bahwa Imam Syafi’i ra dulu saking cintanya kepada Ahlilbayt dituduh Rafidhi, lalu apa jawaban Imam Syafi’i: ‘Jika mencintai keluarga Muhammad adalah Rafidhi (Syiah), maka saksikanlah wahai ats-Tsaqolaan (jin dan manusia) bahwa aku adalah Rofidhi’…”

Menangapi hal itu, perlu diketahui, penggalan kalimat di atas (‘Jika mencintai keluarga Muhammad adalah Rafidhi (Syiah), maka saksikanlah wahai ats-Tsaqolaan (jin dan manusia) bahwa aku adalah Rofidhi’) sering digunakan kalangan penganut syi’ah untuk meyakinkan umat Islam bahwa Imam As-Syafi’i rahmatullahi ‘alaihi saja, berpaham syi’ah rafidhoh. Sedang oleh orang yang cenderung syiah dan berkarib-karib dengan para pentolan syiah namun dirinya tidak mengaku syiah, kalimat itu dimaksudkan sebagai tameng di depan kaum ahlus sunnah apalagi syafi’iyyah. Jadi agar kedekatannya dengan syiah tidak dianggap apa-apa.

Itu sebagaimana perkataan orang khawarij Haruriyah yang mengatakan laa hukma illaa lillaah, tiada hukum kecuali bagi Allah, lalu diucapi oleh Ali bin Abi Thalib: kalimatu haqqin uriida bihaa bathilun (perkataan benar tetapi yang dimaksudkan dengannya adalah kebatilan).[ii]

Kenapa ucapan Imam syafi’I ketika dikutip oleh orang itu kemudian dikomentarai seperti ini? Ya tidak lain karena sikapnya yang tebang pilih terhadap aliran sesat, dan akrabnya dengan para pentolan syiah itu tadi, bahkan memasukkan apa yang dia sebut mazhab Ja’fari (padahal dikatakannya di Iran), syiah digolongkan sebagai mazhab belaka sebagaimana mazhab hanafi, maliki, Sya;fi’I, dan Hanbali. Padahal dalam aqidah maupun pelaksanaan nyata, syiah Iran walau dia sebut Ja’fari, sebegitu dendamnya terhadap Islam. Hingga Abu Lu’lu’ah orang majusi yang membunuh Khalifah Umar bin Khatthab ra justru oleh syiah Iran dijuluki Baba Syuja’uddin (bapak pahlawan agama yang pemberani) yang julukan itu ditulis jelas di pintu gerbang kuburannya, dan kuburannya itu dikeramatkan di sana.

Jadi dengan berbagai indikasi itu maka tepatlah perkataan Ali bin Abi Thalib: kalimatu haqqin uriida bihaa bathilun di sini disematkan kepada pengutip perkataan Imam Syafi’I tersebut.

Bagaimana Sebenarnya syair Imam Syafi’I itu?

Penggalan kalimat itu, merupakan penggalan syair Imam As-Syafi’i rahmatullahi ‘alaihi yang persisnya sebagai berikut:

إن كان رفضاً حبُّ آلِ محمدٍ … فليشهدِ الثقلانِ أَني رافضي

Jika benar Syi’ah Rafidhah itu adalah cinta keluarga Muhammad…

maka hendaklah jin dan manusia bersaksi bahwa aku adalah orang Syi’ah Rafidhoh.

Kalangan syi’ah (rafidhoh) menyangka bahwa Imam As-Syafi’i mendukung mereka, padahal syair itu justru merupakan ledekan Imam As-Syafi’i rahmatullahi ‘alaihi kepada kalangan syi’ah yang suka berdusta dan tidak benar-benar mencintai keluarga Muhammad SAW.

Sejatinya, gaya bahasa dengan menggunakan untaian kata “jika benar” (إن كان) merupakan penolakan bukan kesaksian, antara lain sebagaimana bisa dilihat pada QS Az-Zukhruf ayat 81:

 

قُلْ إِنْ كَانَ لِلرَّحْمَنِ وَلَدٌ فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَ(81)

Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu).

Gaya bahasa seperti itulah yang digunakan dalam syair Imam As-Syafi’i rahmatullahi ‘alaihi. Dalam surat Az-Zukhruf ayat 81 di atas, untaian kata “jika benar” digunakan untuk menunjukkan bahwa Tuhan Yang Maha Pemurah itu justru tidak mempunyai anak. Begitu juga dengan untaian kata pada syair Imam As-Syafi’i rahmatullahi ‘alaihi, justru untuk menunjukkan bahwa syi’ah (rafidhoh) tidak benar-benar mencintai keluarga Muhammad SAW. (lihat tulisan berjudul Ente Syi’ah? di nahimunkar.com http://nahimunkar.com/71/ente-syi%E2%80%99ah/)

Selama ini umat Islam memang serba salah menyikapi sosok Habib RS yang sudah terlanjur diposisikan sebagai pembela Islam. Seolah-olah bila berhadapan dengan Habib RS, sama dengan melawan pembela Islam. Padahal, Habib RS hanyalah manusia biasa yang bisa salah, bukan hanya kesalahan ‘teknis’ menerapkan standard ganda untuk kasus kejahatan seksual dan sebagainya, tetapi boleh jadi kesalahan itu menghunjam ke jantung akidah. Ini perlu diluruskan. Sesungguhnya, mereka yang TAKUT kepada ALLAH tidak akan pernah takut kepada MANUSIA. Sedangkan mereka yang masih TAKUT kepada MANUSIA, boleh jadi bila menggantikan ketakutannya kepada Allah maka dikhawatirkan jurusannya mengarah ke dalam lembah kemusyrikan. Apalagi manusia saja manusia syiah Iran yang dendam pada Islam. Na’udzubillahi min dzalik!

(haji/tede/nahimunkar.com)

***


[i] Oleh Ahmad Hamidin As-Sidawy

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun V/1422H/2001M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Lihat kamus mu’jamul wasit hal : 31.
[2]. Lihat kamus lisanul arab 1/253.
[3]. Lihat kamus muhit : 1245
[4} Sebagaimana di riwayatkan oleh imam muslim dari zaid bin arqom ketika hushain bin sibrah bertanya kepadanya tentang Ahlul bait Nabi Shalal (lihat shahih muslim 7/122-223)
[5]. Lihat kitab taqrib baina Ahlus sunnah was syiah oleh Dr. Nashir bin Abdillah bin Ali Al-qafary 1/102 dan syarah Aqidah washitiyah oleh kholid bin Abdillah Al- muslikh hal. 189.Majmu’ fatawa 28/492
[6]. Lihat minhajus sunnah An-nabawiyah 7/395
[7]. Lihat majmu fatawa 17/506.
[8]. Lihat tafsir Al Qur ‘an Al-Adzim 3/506
[9]. Seperti di nukil oleh Dr. nashir bin Abdillah bin Ali Al-qofari dalam kitabnya masalatu taqrib bainas sunnah wa syiah.1/ 103-105.
[10] Lihat syarah fathhul bari 6/408
[11],Lihat Syarah Aqidah wasyityah oleh syeikh kholid bin Abdillah Al-muslikh hal : 190.
[12]. Lihat jala’ Al-afham hal : 126
[13]. Lihat tafsir karimir rahman .2/916
[14]. Lihat tafsir Al Quran Al-Adzim 3/635.
[15]. Lihat Ushul madhab Syiah karya Dr. nahir bin Abdillah bin Ali Al-qafary : 1/735-758

 مجموع الفتاوى – (ج 28 / ص 495)

 وَفِي مُسْلِمٍ أَيْضًا ” عَنْ عُبَيدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ كَاتِبِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ الحرورية لَمَّا خَرَجَتْ وَهُوَ مَعَ عَلِيٍّ قَالُوا : لَا حُكْمَ إلَّا لِلَّهِ . فَقَالَ عَلِيٌّ : كَلِمَةُ حَقٍّ أُرِيدَ بِهَا بَاطِلٌ .  [ii]

Ilustrasi: eramuslim.com

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَمَّا بَعْدُ :

BOLEH JADI umat Islam awam semakin dibuat bingung oleh sejumput sosok yang gemar berceloteh tentang madzhab dan aliran. Selama ini umat Islam mengenal madzhab empat yang terdiri dari Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Namun oleh pembela syi’ah dan praktisi bid’ah, ke dalam benak umat Islam ‘dipaksakan’ untuk menerima satu madzhab lagi, yaitu Ja’fari, yang dikatakan sebagai madzhab kelima yang diakui masyarakat dunia.

Padahal Madzhab Ja’fari yang dimaksud pembela syi’ah dan praktisi bid’ah adalah nama lain dari sekte syi’ah Imamiyah atau Itsna ‘Asyariyah (imam dua belas) yang berkembang dari Iran hingga Sampang, bahkan seluruh dunia. Sekte syi’ah ini mengkafirkan kelompok di luar mereka yang tidak beriman kepada konsep keimaman yang ada dalam rukun iman syi’ah. (lihat tulisan berjudul Inikah Senjata Pengusung Aliran Sesat Syi’ah dan Praktisi Bid’ah di http://nahimunkar.com/15197/inikah-senjata-pengusung-aliran-sesat-syiah-dan-praktisi-bidah/)

Selain madzhab Ja’fari, para pembela syi’ah dan praktisi bid’ah ini juga gemar memperdengarkan faham Asy’ari. Salah satu pengasong syi’ah yang pernah menyebut-nyebut faham Asy’ari ini adalah Zen Al-Hady. Ia menyebutkan bahwa faham Asy’ari dianut oleh komunitas NU, dan pada masa lalu paham dan praktik keagamaan versi madzhab Asy’ari ini pernah dinyatakan sesat bahkan kafir oleh pemerintah Saudi. (lihat tulisan berjudul Radio Silaturahim Pro Syi’ah? di http://nahimunkar.com/10988/radio-silaturahim-pro-syiah/)

Selain Zen Al-Hady, pentolah FPI juga termasuk yang gemar menyebut-nyebut faham Asy’ari ini. Misalnya, sosok bernama alias Abu Muhammad Yusuf yang dalam sebuah tulisan panjangnya –yang disebutnya ilmiah namun penuh dengan caci-maki– antara lain menyebutkan bahwa Habib Riziek Shihab itu pembela madzhab Asy’ari yang konon dikafirkan oleh kalangan Wahabi. Juga dikatakan, bahwa Indonesia ini adalah Negeri Asy’ari. (lihat tulisan berjudul Waspadai Ustadz Palsu Pembela Syi’ah di http://umarabduh.blog.com/2012/05/03/waspadai-ustadz-palsu-pembela-syi%E2%80%99ah/)

Umat ditipu untuk terjerumus ke apa yang mereka sebut Madzhab Ja’fari, tapi disebutnya mu’tadilah padahal sebenarnya Rafidhah (syi’ah sesat). Kemudian ditingkahi dengan menonjolkan faham Asy’ari. Mungkin ini sengaja dibikin bingung oleh pembela syi’ah dan praktisi bid’ah sehingga dalam kebingungan itu umat Islam hanya melongo ketika dikatakan madzhab ini dan itu juga bagian dari ahlus sunnah wal jama’ah meski praktik ibadahnya tidak menuruti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Madzhab Ja’fari adalah nama alias untuk sekte syi’ah laknatullah yang sesat menyesatkan dan mengkafirkan umat Islam bermadzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Sedang faham Asy’ari tidak mengkafirkan seperti itu. Bila Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali adalah madzhab fiqih, maka Asy’ari adalah aliran dalam aqidah.

Ketika makna sederhana, fiqih adalah hukum Islam praktis (yang diterapkan), sedangkan makna sederhana aqidah adalah keyakinan atau keimanan, lalu sebagian orang menjajakan Ja’fari dikesankan sebagai madzhab fiqh belaka padahal itu adalah aqidah sesat syi’ah, tentu ada maksud-maksud di balik itu.

Yang menjajakan kerancuan seperti itu ternyata menyuara seolah mewakili faham Asy’ari. Yaitu, mereka yang selama ini menjadikan salafy-wahabi sebagai isu. Kalau dipersonifikasi, mereka yang punya gelagat seperti itu antara lain Habib Riziek Shihab dan Said Agil Siradj. Bahkan ada yang berani menjamin, bahwa keduanya Asy’ari asli.

Keduanya (Habib Riziek Shihab dan Said Agil Siradj) punya kesamaan dan perbedaan. Persamaannya, sama-sama mendukung syi’ah namun tidak mau disebut syi’ah. Sama-sama praktisi bid’ah meski lulusan sekolah yang diledekin wahabi. Perbedaannya, dalam kasus Lady Gaga, Irshad Manji (lesbian, homoseks) dan Ahmadiyah, Habib Riziek Shihab kontra ketiganya; sedangkan Said Agil Siradj pro itu semua.

Nah, jalan pikiran umat yang awam tentu akan mudah sampai pada kesimpulan bahwa faham Asy’ari itu di sini tokohnya yang vokal adalah sosok pendukung syi’ah, praktisi bid’ah yang fiqih dan aqidahnya belum tentu selaras. Madzhab seperti inilah yang dibela habis-habisan oleh Habib Riziek Shihab sebagaimana bisa disimpulkan dari curahan hati Abu Muhammad Yusuf di internet.

Dengan kata lain, para pembela syi’ah dan praktisi bid’ah ini agar tidak begitu dikenali sebagai ‘musuh’ oleh umat Islam (ahlussunnah wal jama’ah), cenderung menonjol-nonjolkan identitasnya sebagai penganut faham Asy’ari, yang menurut mereka dianut oleh sebagian besar umat Islam di Indonesia, sebagaimana dikatakan sosok bernama alias Abu Muhammad Yusuf (salah satu elite FPI) sebagai berikut: “Hei Wahabi ! Indonesia Negeri Asy’ari. Kalau tidak suka, ente ke Nejed saja tempat lahirnya Musailamah Al-Kadzdzab !!! Jangan pecah belah umat Islam di Indonesia !!!” (http://umarabduh.blog.com/2012/05/03/waspadai-ustadz-palsu-pembela-syi%E2%80%99ah/)

Dalam hal syi’ah, Habib Riziek Shihab pernah membagi syi’ah ke dalam tiga kategori yaitu Ghulat, Rafidhoh, dan Mu’tadilah. Syi’ah Ghulat tergolong kafir dan wajib diperangi, karena menjadikan Ali bin Abi Thalib RA sebagai nabi, bahkan Tuhan, serta meyakini bahwa Al-Qur’an sudah dirubah-ditambah-dikurangi (Tahrif). Sedangkan syi’ah Rafidhoh tergolong sesat, karena cenderung melakukan penghinaan, penistaan, pelecehan secara terbuka baik lisan atau pun tulisan terhadap para Sahabat Nabi SAW seperti Abu Bakar RA dan Umar RA atau terhadap para isteri Nabi SAW seperti ‘Aisyah RA dan Hafshah RA.

Golongan ketiga, syi’ah mu’tadilah tidak sesat dan tidak kafir karena hanya mengutamakan Ali bin Abi Thalib ra di atas para Shahabat Nabi lainnya (Abu Bakar ra, Umar Ibnul Khattab ra, Utsman bin Affan ra), dan lebih mengedepankan hadits riwayat ahlul bait daripada perawi hadits lainnya. Jadi, menurut Riziek Shihab yang difatwa sesat oleh MUI adalah syi’ah ghulat. (http://satuislam.wordpress.com/2009/05/07/ustadz-habib-muhammad-rizieq-shihab-%E2%80%9Cfatwa-mui-hanya-untuk-syiah-ghulat%E2%80%9D/)

Syi’ah Mu’tadilah inilah yang oleh Habib Riziek Shihab dimaksudkan sebagai madzhab Ja’fari. Padahal, sejatinya madzhab Ja’fari inilah yang merupakan sekte syi’ah paling dominan di Iran, terbentang luas hingga Sampang dan seluruh penjuru dunia lainnya. Penganut madzhab Ja’fari inilah yang mmebunuhi umat Islam di iran, Suriah, dan juga memicu bentrok Sampang. (lihat tulisan berjudul Habib RS Cenderung Syi’ah? di http://nahimunkar.com/11901/habib-rs-cenderung-syiah/).

Bagaimanapun, syiah Ja’fariyah sama sekali tidak dapat dibilang sebagai mu’tadilah. Justru syi’ah rafidhah yang memang sesat itulah syi’ah Ja’fariyah. Karena Syiah Rafidhah mempunyai beberapa nama yang lain yaitu:

  1. Syiah Itsa ‘Asyariah (Syiah 12), nisbat kepada keyakinan mereka akan adanya 12 imam.
  2. Syiah Al-Ja’fariah, nisbat kepada Ja’far Ash-Shadiq.
  3. Syiah Al-Imamiah, karena mereka meyakini Ali dan keturunannya adalah para imam, dan mereka masih menunggu seorang yang akan keluar di akhir zaman.

Syaikh Al-Islam berkata dalam Minhaj As-Sunnah (1/22), “Karenanya ada kemiripan antara mereka dengan Yahudi dalam hal keburukan, pengikutan terhadap hawa nafsu, dan selainnya dari akhlak-akhlak Yahudi. Dan ada kemiripan antara mereka dengan Nashrani dalam hal pengkultusan yang berlebihan, kejahilan, dan selainnya dari akhlak-akhlak Nashrani. Betapa miripnya mereka dengan mereka (Yahudi) dari satu sisi dan dengan mereka (Nashrani) dari sisi yang lain. Dan kaum muslimin senantiasa menyifati mereka dengan sifat ini.

[Diringkas dari Risalah fi Ar-Radd 'ala Ar-Rafidhah hal. 29-41]

(lihat link http://al-atsariyyah.com/mengenal-syiah-rafidhah-dan-pencetusnya.html ).

Nah, dalam rangka membela-bela syi’ah agar bisa diterima di Indonesia, Habib Riziek Shihab tidak saja mensosialisasikan paham sesat syi’ah menjadi tiga bagian yang konon salah satunya layak diterima sebagai madzhab dalam Islam (madzhab Ja’fari alias syi’ah mu’tadilah menurut dia), ia juga berusaha meyakinkan umat Islam bahwa yang difatwa sesat oleh MUI adalah syi’ah ghulat. (lihat http://satuislam.wordpress.com/2009/05/07/ustadz-habib-muhammad-rizieq-shihab-%E2%80%9Cfatwa-mui-hanya-untuk-syiah-ghulat%E2%80%9D/)

Padahal, syi’ah yang difatwa sesat oleh MUI Sampang ajarannya sama dengan syi’ah yang ada di tempat lain di Indonesia, sama dengan paham sesat syi’ah yang berlaku di Iran, Suriah, dan seluruh penjuru dunia. Jadi, upaya Habib Riziek Shihab membela-bela syi’ah dengan cara-cara tadi, menunjukkan bahwa ia benar-benar konsisten membela paham sesat syi’ah laknatullah yang merupakan induk kesesatan. Layakkah sosok yang getol memberangus Ahmadiyah, Lady Gaga, Irshad Manji, Majalah Playboy dan sebagainya itu tetapi konsisten membela syi’ah laknatullah ini disebut pembela Islam?

Sikap Riziek Shihab itu senada dengan sikap pembela syi’ah lainnya, yang mengatakan bahwa yang dikatakan sesat itu cuma syi’ah Sampang. Seolah-olah ada syi’ah-syi’ah lain yang tidak sesat. Ini jelas upaya pengelabuan khas pembela syi’ah. Selain gemar melakukan pengelabuan (talbis), para pembela syi’ah dan praktisi bid’ah ini gemar mengumbar tuduhan klise, bahwa pihak yang anti syi’ah dan bid’ah adalah orang-orang yang suka memecah belah umat Islam.

Di titik ini, gaya dan sikap para pembela syi’ah dan praktisi bid’ah ini sama saja dengan gaya dan sikap para pembela liberal. Pembela liberal selain menuding umat Islam yang sedang membela agamanya dengan julukan radikal, juga kerap meledeknya sebagai sumber perpecahan. Apakah adanya kesamaan ini menunjukkan bahwa keduanya mempunyai guru yang sama? Wallahu a’lam…

Habib Riziek Shihab pada sebuah kesempatan on air di Radio Silaturahim (Rasil) corong syi’ah di Cibubur Jakarta, tepatnya pada 20 Mei 2012 sore, menyangkal dirinya syi’ah. Selain menyangkal, Riziek juga mengakui pernah bersekolah di SMP Kristen Bethel Petamburan, Jakarta, tak jauh dari tempat tinggalnya. Namun hal itu tidak membuatnya menjadi murtadin.

Menurut catatan, Habib Riziek pernah menimba ilmu selama tujuh tahun di Saudi Arabia yang dijuluki berpaham Wahabi oleh para pembela syi’ah dan praktisi bid’ah, namun hal itu tidak membuatnya menjadi wahabi, justru konsisten dengan praktik bid’ahnya seperti maulidan, tahlilan upacara memperingati orang mati, dan sebagainya.

Namun, meski hanya sempat tujuh hari diundang ke Iran oleh Ayatullah Taskhiri [Taqrib bainal Mazahib] pada Mei 2006, Habib Riziek Shihab begitu kental pembelaannya terhadap syi’ah, seraya membungkus dirinya dengan atribut pembela Islam.

Meski dengan trik-triknya yang sebegitu, namun  tetap terdeteksi betapa kentalnya pembelaan Habib Riziek Shihab terhadap syi’ah. Sebagaimana bisa dibuktikan bahwa hingga kini ia hanya berani mengecam Ahmadiyah dan berbagai aliran sesat lainnya tetapi minus aliran sesat syi’ah.

Meski sebagian anggota masyarakat pernah memergoki ada sejumlah anggota komunitas Petamburan ini yang mempraktikkan shalat ala syi’ah di markasnya, namun tetap saja ia menyangkal menjadi fasilitator syi’ah sekaligus pembela syi’ah laknatullah.

Selain menyangkal menjadi pembela syi’ah, Habib Riziek Shihab juga gemar mencitrakan dirinya sebagai pembela faham Asy’ari. Lha, sekarang semakin jelas siapa Habib Riziek Shihab itu, karena berdasarkan pengamatan umat Islam yang awam sekalipun, ternyata yang dimaksud faham Asy’ari yang ditonjolkannya itu yang dia praktekkan tak lain adalah trik-trik sebagai pendukung syi’ah sekaligus praktisi bid’ah sebagaimana diuraikan di atas. Begitulah adanya.

وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا إلَى يَوْمِ الدِّينِ.

 (haji/tede/nahimunkar.com).

Agama Sesat Syi’ah –Hadahumullah- tidak henti-hentinya mengincar mangsa di negeri kita. Melalui berbagai cara, mereka berusaha mendekatkan diri mereka kepada kaum muslimin untuk dengan misi penyebaran agama Sesat Syi’ah di Indonesia. Salah satunya dengan mendirikan berbagai yayasan “keislaman” untuk melancarkan makar Iblis mereka. Maka, berhati-hatilah wahai kaum muslimin terhadap yayasan-yayasan Agama Syi’ah yang akan mengancam aqidah kita dan keturunan kita…
Berikut ini kami bawakan daftar nama dan alamat yayasan Syi’ah di Indonesia (Semoga Allah memberi hidayah Sunnah kepada orang-orang Syi’ah). Maksud kami menampilkan daftar yayasan Agama Syi’ah disini dengan tujuan agar kaum muslimin dapat berhati-hati terhadap makar dan propaganda sesat Syi’ah. Dan salah satu pusat penyebaran Agama Syi’ah di Indonesia adalah kota Bandung bersama yayasan Muthoharinya dengan dedengkotnya seorang Syi’ah Rofidhoh DR. Jalaluddin Rahmat (biasa dipanggil dengan Kang Jalal – salah seorang dosen universitas ternama di kota Bandung). Semoga Allah segera membuka kedok orang ini yang sesungguhnya!!! Maka, berhati-hatilah wahai Umat Islam dari makar Syi’ah –  Syiah adalah agama buatan orang yahudi yang bernama abdullah bin saba,
DAFTAR YAYASAN AGAMA SYI’AH DI NUSANTARA
Yayasan Fatimah
JL. Batu Ampar III No.14 Condet Jakarta Timur, 13520
Tazkia Sejati Patra Kuningan IX No.6 Kuningan Jakarta Selatan
Yayasan Al Mahdi Jakarta Utara
Yayasan Al Muntazar Komp Taman Kota Blok E7/43 Kembangan Utara, Jakarta Barat
Yayasan Madina Ilmu Sawangan, Parung, Depok
Shaf Muslimin Indonesia Cawang
IPABI Bogor Yayasan Insan Cita Prakarsa Jl Lontar 4 No.9 Menteng Atas Jaksel
Islamic Center Jakarta Al Huda Jl Tebet Barat II No 8, Tebet, Jaksel, Indonesia 12810
Yayasan Asshodiq Jl Penggilingan No 16 A, RT01/07 Jakarta Timur
Pengajian Ummu Abiha (HJ Andriyanti) Jl Pondok Hijau VI No.26 Pondok Indah Jakarta Selatan 12310
Pengajian Al Bathul (Farida Assegaf) Jl Clilitan Kecil, Jaksel
Yayasan Babul Ilmi Jl Taman Karmila, Blok F3/15 Jatiwaringin Asri, Pondok Gede
Pengajian Haurah Jl Kampus I Sawangan Depok
MPII Jl Condet Raya 14 condet Jaktim 13520
FAHMI (Forum Alumni HMI) Depok Jl. Fatimah 323 Depok
Yayasan Azzahra Jl. Dewi Sartika Gg.Hj.M.Zen No 17, RT.007/05, Cawang 3, Jakarta Timur
Yaysan Al Jawad Gegerkalong Girang, No 92 Bandung 40015
Yayasan Muttahhari Jl Kampus II No 32 Kebaktian Kiaracondong 40282
Majlis Taklim Al Idrus Rt 04/01 Cipaisan, Purwakarta
Yayasan Fatimah Jl Kartini Raya No 11/13, Cirebon 45123
Yayasan Al Kadzim
Yayasan Al Baro’ah Gg Lenggang IV-66 Blok H, Bumi Resik Panglayungan, Tasikmalaya 46134 Jabar
Yayasan 10 Muharrom JL Chincona 7 Pangalengan Bandung
Majlis Ta’lim Annur Jl Otista No 21 Tangerang Jabar
Yayasan As Shodiq Jl Plesiran 44 Bandung 40132
IPABI PO BOX 509 Bogor Jabar
Yayasan As Salam Jl Raya Maja Utama 25 Majalengka Jabar
YAYASAN Al Mukarromah Jl Cimuncang No 79 Bandung Jabar Jl Kebun Gedang 80 Bandung 40274 Jabar
MT Al Jawad Jl Raya Timur No 321 Singaparna Tasikmalaya Jabar
Yayasan al Mujtaba Jl Walangi No 82 Kaum Purwakarta Jabar
Yayasan Saifik Jl Setiabudi Blok 110 No 11A/166 D Bandung, Jawa Barat
Yayasan Al Ishlah DRS Ahmad M.Ag
Jl Pasar Kramat No 242 Ps Minggu Cirebon, Jabar Yayasan Al-Aqilah Jl. Eksekusi EV No. 8 Komp. Pengayoman, Tangerang 15118
Banten – Indonesia
Yayasan Dar Taqrib Jl KH Yasin 31A PO BOX 218 Jepara Jawa Tengah
Al Hadi Pekalongan 51123 , PO BOX 88,
Yayasan Al Amin Giri Mukti Timur II/1003/20, Semarang Jawa Tengah
Yayasan Al Khoirat Jl Pramuka 45, RT 05/06 Bangsri Jepara Demak Jateng Desa Prampelan, Rt 02/04 No 50 Kec Sayung, Jateng
Yayasan Al Wahdah Metrodanan, 1/1 no 81 Ps Kliwon, Solo Jateng
Yayasan Rausan Fikr (Safwan) Jl Kaliurang Km 6, Gg Pandega Reksa No 1B Yogyakarta
Yayasan Al Mawaddah Jl Baru I Panaruban, Rt 02/03 Weleri, Kendal Jateng
Yayasan Al Mujtaba (BP Arman) Jl Pasar I/59, Wonosobo Jateng
Yayasan Safinatunnajah Jl Pahlawan, Wiropati 261, Desa Pancur wening Wonosobo Jateng
Yayasan Al Mahdi Jl. Jambu No.10, Balung, Jember Jawa Timur 68161
Majlis T’lim Al Alawi Jl Cokroaminoto III/254, Probolinggo Jawa Timur
Yayasan Al Muhibbiin Jl. Kh Hasan No.8, Probolinggo, Jawa Timur
Yayasan Attaqi Kedai Hijau, Jl. RA Kartini No.7 Pandaan Pasuruan Jatim
Yayasan Azzhra Sidomulyo II No 38, Bululawang Malang Jawa Timur
Yayasan Ja’far Asshodiq Jl KH Asy’ari II/1003/20 Bondowoso Jawa Timur 68217
Yayasan Al Yasin Jl. Wonokusumo Kulon GG 1/No.2 Surabaya
Yayasan Itrah PO BOX 2112, Jember Jawa Timur
Yapisma Jl. Pulusari I/30, Blimbing, Malang Jawa Timur
Yayasan Al Hujjah Jalan Sriwijaya XXX/5 Jember Jawa Timur
Yayasan Al Kautsar Jl.Arif Margono 23 A, Malang Jawa Timur
YAPI Jl Pandaan Bangil, Kenep Beji, Pasuruan Jatim
Yayasan AL Hasyim Jl Menur III/25A Surabaya
Yayasan Al Qoim Jl Sermah Abdurrahman No 43, Probolinggo Jawa Timur
FAJAR
Al-Iffah Jl. Trunojoyo IX / 17 Jember
Yayasan BabIlm Jl. KH. Wahid Hasyim 55 Jember 68137. Jawa – Timur Telpon : 0331-483147 PO. BOX : 232
Yayasan al-Kisa’ Jl. Taeuku Umar Gg. Sesapi No. 1 Denpasar Bali
Al-Hasyimi Toko al-Kaf Nawir Jl. Selaparang 86 Cakranegara Lombok
Yayasan Al Islah Kopm Panakkukang Mas II Bloc C1/1 Makasar 90324
Yayasan Paradigma Jl Sultan Alaudin no 4/lr 6
Yayasan Fikratul Hikmah Jl Sukaria I No 4 Makasar 90222
Yayasan Sadra Makasar
Yayasan Pinisi JL Pontiku, Makassar, Sulsel
Yayasan LSII JL Veteran Selatan, Lorong 40 No 60 Makasar
Yayasan Lentera Jl. Inspeksi Pam No. 15 Makassar
Yayasan Nurtsaqolain Jl Jendral Sudirman No 36A Palopo Sulsel Belakang Hotel Buana
Yas Shibtain Jl Rumah Sakit no 7 Tanjung Pinang Kep Riau
Yayasan Al Hakim Pusat Perbelanjaan Prinsewu, Bolk B Lt2, Lampung Selatan 35373
Yayasan Pintu Ilmu Jl Kenten Permai, Ruko Kentan Permai No.7 Palembang 30114
Yayasan Al Bayan Jl Dr. M. Isa 132/795 Rt 22/8 Ilir Palembang
Yayasan Ulul Albab Jl Air Bersih 24 D Kutabelang Loksumawe Aceh
Yayasan Amali Jl. Rajawali. Komp. Rajawali I No. 7 Medan 20122
Kumail Jl. Punai 2 No. 26 Kuto Batu Palembang
Yayasan Al Muntadzar Jl Al Kahoi II no 80, Samarinda Kalimantan Selatan
Yayasan Arridho Jl A Yani KM 6-7 No 59 Banjarmasin Kalimantan Selatan
Us Ali Ridho Alatas Jl. Sungai Ampal No.10 Rt43/15 Sumberjo, Balikpapan, Kalimantan Timur
Madrasah Nurul Iman Selat Segawin, remu Selatan No 2 Sorong Irian Jaya
Sumber: Yayasan Fatimah (yayasan syiah)

http://jihaddakwahibadah.blogspot.com – Diposkan oleh ISA MUSHAB ASH-SHABAB

 

Secara fisik, sulit sekali membedakan antara penganut Islam dengan Syiah, namun jika diteliti lebih jauh dan lebih mendalam lagi—terutama dari segi aqidah—perbedaan di antara Islam dan Syiah sangatlah besar. Ibaratnya, Islam dan Syiah seperti minyak dan air, hingga tak mungkin bisa disatukan.

SELAMA ini, mayoritas orang selalu menganggap Syiah bagian dari Islam. Mayoritas kaum muslimin di seluruh dunia sendiri menilai bahwa menentukan sikap terhadap Syi’ah adalah sesuatu yang sulit dan membingungkan. Ini disebabkan beberapa hal mendasar yaitu kurangnya informasi tentang Syi’ah. Syi’ah, di kalangan mayoritas kaum muslimin adalah eksistensi yang tidak jelas, tidak diketahui apa hakikatnya, bagaimana berkembang, tidak melihat bagaimana sejarahnya, dan tidak dapat diprediksi bagaimana di kemudian hari. Berangkat dari hal-hal tersebut, akhirnya orang Islam yang umum meyakini Syi’ah tak lain hanyalah salah satu mazhab Islam, seperti mazhab Syafi’i, Maliki dan sejenisnya.
Tapi sesungguhnya ada perbedaan antara Syiah dan Islam. Bisa dikatakan, Islam dengan Syiah serupa tapi tak sama. Secara fisik, sulit sekali membedakan antara penganut Islam dengan Syiah, namun jika diteliti lebih jauh dan lebih mendalam lagi—terutama dari segi aqidah—perbedaan di antara Islam dan Syiah sangatlah besar. Ibaratnya, Islam dan Syiah seperti minyak dan air, hingga tak mungkin bisa disatukan.
Asal-usul Syi’ah
Syi’ah secara etimologi bahasa berarti pengikut, sekte dan golongan seseorang. Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang berkedok dengan slogan kecintaan kepada Ali bin Abi Thalib beserta anak cucunya bahwasanya Ali bin Abi Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm). Sedang dalam istilah syara’, Syi’ah adalah suatu aliran yang timbul sejak masa pemerintahan Utsman bin Affan yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba’ Al-Himyari.
Abdullah bi Saba’ mengenalkan ajarannya secara terang-terangan dan menggalang massa untuk memproklamasikan bahwa kepemimpinan (imamah) sesudah Nabi Muhammad saw seharusnya jatuh ke tangan Ali bin Abi Thalib karena suatu nash (teks) Nabi saw. Menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut. Dalam Majmu’ Fatawa, 4/435, Abdullah bi Shaba menampakkan sikap ekstrem di dalam memuliakan Ali, dengan suatu slogan bahwa Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa).
Keyakinan itu berkembang terus-menerus dari waktu ke waktu, sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib. Berhubung hal itu suatu kebohongan, maka diambil suatu tindakan oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu mereka dibakar, lalu sebagian dari mereka melarikan diri ke Madain.
Pada periode abad pertama Hijriah, aliran Syi’ah belum menjelma menjadi aliran yang solid. Barulah pada abad kedua Hijriah, perkembangan Syiah sangat pesat bahkan mulai menjadimainstream tersendiri. Pada waktu-waktu berikutnya, Syiah bahkan menjadi semacam keyakinan yang menjadi trend di kalangan generasi muda Islam: mengklaim menjadi tokoh pembaharu Islam, namun banyak dari pemikiran dan prinsip dasar keyakinan ini yang tidak sejalan dengan Islam itu sendiri.
Perkembangan Syiah
Bertahun-tahun lamanya gerakan Syiah hanya berputar di Iran, rumah dan kiblat utama Syiah. Namun sejak tahun 1979, persis ketika revolusi Iran meletus dan negeri ini dipimpin oleh Ayatullah Khomeini dengan cara menumbangkan rejim Syah Reza Pahlevi, Syiah merembes ke berbagai penjuru dunia. Kelompok-kelompok yang mengarah kepada gerakan Syi’ah seperti yang terjadi di Iran, marak dan muncul di mana-mana.
Perkembangan Syi’ah, yaitu gerakan yang mengatasnamakan madzhab Ahlul Bait ini memang cukup pesat, terlebih di kalangan masyarakat yang umumnya adalah awam dalam soal keagamaan, menjadi lahan empuk bagi gerakan-gerakan aliran sempalan untuk menggaet mereka menjadi sebuah komunitas, kelompok dan jama’ahnya.
Doktrin Taqiyah.
Untuk menghalangi perkembangan Syi’ah sangatlah sulit. Hal itu dikarenakan Syi’ah membuat doktrin dan ajaran yang disebut “taqiya.” Apa itu taqiyah? Taqiyah adalah konsep Syiah dimana mereka diperbolehkan memutarbalikkan fakta (berbohong) untuk menutupi kesesatannya dan mengutarakan sesuatu yang tidak diyakininya. Konsep taqiya ini diambil dari riwayat Imam Abu Ja’far Ash-Shadiq a.s., beliau berkata: “Taqiyah adalah agamaku dan agama bapak-bapakku. Seseorang tidak dianggap beragama bila tidak bertaqiyah.” (Al-Kaafi, jus II, h. 219).
Jadi sudah jelas bahwa Syi’ah mewajibkan konsep taqiyah kepada pengikutnya. Seorang Syi’ah wajib bertaqiyah di depan siapa saja, baik orang mukmin yang bukan alirannya maupun orang kafir atau ketika kalah beradu argumentasi, terancam keselamatannya serta di saat dalam kondisi minoritas. Dalam keadaan minoritas dan terpojok, para tokoh Syi’ah memerintahkan untuk meningkatkan taqiyah kepada pengikutnya agar menyatu dengan kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, berangkat Jum’at di masjidnya dan tidak menampakkan permusuhan. Inilah kecanggihan dan kemujaraban konsep taqiyah, sehingga sangat sulit untuk melacak apalagi membendung gerakan mereka.
Padahal, arti taqiyah menurut pemahaman para ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah berdasar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, taqiyah tidaklah wajib hukumnya, melainkan mubah, itupun dalam kondisi ketika menghadapi kaum musyrikin demi menjaga keselamatan jiwanya dari siksaan yang akan menimpanya, atau dipaksa untuk kafir dan taqiyah ini merupakan pilihan terakhir karena tidak ada jalan lain.
Doktrin taqiyah dalam ajaran Syi’ah merupakan strategi yang sangat hebat untuk mengembangkan pahamnya, serta untuk menghadapi kalangan Ahli Sunnah, hingga sangat sukar untuk diketahui gerakan mereka dan kesesatannya.
Kesesatan-kesesatan Syiah
Di kalangan Syiah, terkenal klaim 12 Imam atau sering pula disebut “Ahlul Bait” Rasulullah Muhammad saw; penganutnya mendakwa hanya dirinya atau golongannya yang mencintai dan mengikuti Ahlul Bait. Klaim ini tentu saja ampuh dalam mengelabui kaum Ahli Sunnah, yang dalam ajaran agamanya, diperintahkan untuk mencintai dan menjungjung tinggi Ahlul Bait. Padahal para imam Ahlul Bait berlepas diri dari tuduhan dan anggapan mereka. Tokoh-tokoh Ahlul Bait (Alawiyyin) bahkan sangat gigih dalam memerangi faham Syi’ah, seperti mantan Mufti Kerajaan Johor Bahru, Sayyid Alwi bin Thahir Al-Haddad, dalam bukunya “Uqud Al-Almas.”
Adapun beberapa kesesatan Syiah yang telah nyata adalah:
1. Keyakinan bahwa Imam sesudah Rasulullah saw. Adalah Ali bin Abi Thalib, sesuai dengan sabda Nabi saw. Karena itu para Khalifah dituduh merampok kepemimpinan dari tangan Ali bin Abi Thalib r.a.
2. Keyakinan bahwa Imam mereka maksum (terjaga dari salah dan dosa).
3. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam yang telah wafat akan hidup kembali sebelum hari kiamat untuk membalas dendam kepada lawan-lawannya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dll.
4. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam mengetahui rahasia ghaib, baik yang lalu maupun yang akan datang. Ini berarti sama dengan menuhankan Ali dan Imam.
5. Keyakinan tentang ketuhanan Ali bin Abi Thalib yang dideklarasikan oleh para pengikut Abdullah bin Saba’ dan akhirnya mereka dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib sendiri karena keyakinan tersebut.
6. Keyakinan mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Padahal Ali sendiri mengambil tindakan hukum cambuk 80 kali terhadap orang yang meyakini kebohongan tersebut.
7. Keyakinan mencaci maki para sahabat atau sebagian sahabat seperti Utsman bin Affan (lihat Dirasat fil Ahwaa’ wal Firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minhaa, Dr. Nashir bin Abd. Karim Al Aql, hal.237).
8. Pada abad kedua Hijriah perkembangan keyakinan Syi’ah semakin menjadi-jadi sebagai aliran yang mempunyai berbagai perangkat keyakinan baku dan terus berkembang sampai berdirinya dinasti Fathimiyyah di Mesir dan dinasti Sofawiyyah di Iran. Terakhir aliran tersebut terangkat kembali dengan revolusi Khomeini dan dijadikan sebagai aliran resmi negara Iran sejak 1979.
Saat ini figur-figur Syiah begitu terkenal dan banyak dikagumi oleh generasi muda Islam, karena pemikiran-pemikiran yang lebih banyak mengutamakan kajian logika dan filsafat. Namun, semua jamaah Sunnah wal Jamaah di seluruh dunia, sudah bersepakat adanya bahwa Syiah adalah salah satu gerakan sesat. [sa/islampos/berbagai sumber]
Rujukan:
1. Dr. Nashir bin Abd. Karim Al Aql, “Dirasat fil Ahwaa’ wal firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minha.”
2. Drs. KH. Dawam Anwar dkk. “Mengapa kita menolak Syi’ah.”
3. Abdullah bin Said Al Junaid, “Perbandingan antara Sunnah dan Syi’ah. ”
4. Dan lain-lain, kitab-kitab karangan orang Syi’ah.
5. Beberapa situs dan blog pribadi

http://jihaddakwahibadah.blogspot.com Diposkan oleh ISA MUSHAB ASH-SHABAB

  • Saya tidak bermaksud mengancam ya tapi apakah kita harus memindahkan konflik Sunnah-Syiah dari Iraq ke Indonesia?
  • Menurut Jalaluddin Rakhmat, penganut Syiah tak akan diam saja seperti Ahmadiyah yang hanya tersenyum ketika mendapat kekerasan.
  • “Orang-orang Syiah tidak akan membiarkan kekerasan ini. Karena untuk pengikut Syiah, mengucurkan darah bagi Imam Husein adalah sebuah kemuliaan,” ujar Jalaluddin.
  •  Bahkan menurutnya, kaum Syiah pemberani dan merasa bangga jika bisa mengalirkan darah bersama Imam Husein.
  • “Saya kira kelompok Syiah tidak sebagus dalam tanda kutip kelompok Ahmadiyah, kita adalah sebuah kelompok keagamaan yang mendunia, jadi berbeda dengan kelompok Ahmadiyah yang menyambut pukulan yang mematikan itu dengan senyuman. Orang-orang Syiah pada suatu saat tidak akan membiarkan tindakan kekerasan itu terus menerus terjadi. Karena buat mereka, mengorbankan darah dan mengalirkannya bersama darah Imam Husein adalah satu mimpi yang diinginkan oleh orang Syiah. Saya tidak bermaksud mengancam ya tapi apakah kita harus memindahkan konflik Sunnah-Syiah dari Iraq ke Indonesia? Semua itu berpulang pada pemerintah,” ucapnya.

Apa Kata Jalaludin Rakhmat Soal Sampang?

TEMPO.CO, Jakarta – Cendekiawan Jalaluddin Rakhmat merayakan ulang tahunnya ke-67 tahun, Rabu 29 Agustus 2012 malam ini. Sebuah pesta syukur digelar di kediamannya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Sengaja di acara itu, Jalaluddin mengundang sejumlah tokoh dari Syiah, Ahmadiyah, dan juga tokoh pluralisme. Misalnya Daud Poliraja: Ketua Majelis Ukhuwah Sunni Syiah Indonesia; Buya Syafi”i Ma”arif dari Muhammadiyah; Zafrullah Pontoh dari Ahmadiyah; dan Kiyai Imam Ghazali dari Nahdatul Ulama.

Pada pembukaan syukuran, Jalaluddin mengungkapkan pendapatnya soal tragedi berdarah di Sampang, Madura. Kata Jalaludin, penyerangan itu bukanlah soal konflik keluarga yang menggunakan isu agama. “Tapi fanatisme agama yang mengatasnamakan keluarga,” kata Ketua Dewan Syuro Ikatan Jemaaah Ahlul Bait Indonesia itu.

Soal pengungsian di Sampang, Jalaluddin tak yakin akan berhenti. Malah semuanya akan berlarut-larut dan terus terjadi jika pelaku kekerasan tak dihukum. Dan menurutnya, penganut Syiah tak akan diam saja seperti Ahmadiyah yang hanya tersenyum ketika mendapat kekerasan.

Orang-orang Syiah tidak akan membiarkan kekerasan ini. Karena untuk pengikut Syiah, mengucurkan darah bagi Imam Husein adalah sebuah kemuliaan,” ujar Jalaluddin.

Tragedi berdarah di Sampang terjadi pada Ahad, 26 Agustus 2012. Dalam bentrokan itu, satu pengikut Syiah tewas setelah tersabet celurit. Selain itu, puluhan orang terluka dan empat korban kritis.
CORNILA DESYANA

http://www.tempo.co/read/news/2012/08/29/173426259/Apa-Kata-Jalaludin-Rahmat-Soal-Sampang

***

Jalal: Apakah Harus Memindahkan Konflik Sunnah-Syiah dari Iraq ke Indonesia?

Jalal dan Istrinya, Emilia Renita Az/ foto: merdeka.com

Hidayatullah.com–Ketua Dewan Syura Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rahkmat di acara “Milad ke 63 kang Jalal: Napak Tilas Perjalaanan Syiah Kang Jalal” di Kemang VI no 9, Kemang Raya, Jakarta, Rabu malam (29/08/2012) mengatakan pada hakekatnya dalam ajaran Syiah dibenarkan melakukan balas dendam jika terlebih dulu diperangi dan dizalimi.

Bahkan menurutnya, kaum Syiah pemberani dan merasa bangga jika bisa mengalirkan darah bersama Imam Husein.

Saya kira kelompok Syiah tidak sebagus dalam tanda kutip kelompok Ahmadiyah, kita adalah sebuah kelompok keagamaan yang mendunia, jadi berbeda dengan kelompok Ahmadiyah yang menyambut pukulan yang mematikan itu dengan senyuman. Orang-orang Syiah pada suatu saat tidak akan membiarkan tindakan kekerasan itu terus menerus terjadi. Karena buat mereka, mengorbankan darah dan mengalirkannya bersama darah Imam Husein adalah satu mimpi yang diinginkan oleh orang Syiah. Saya tidak bermaksud mengancam ya tapi apakah kita harus memindahkan konflik Sunnah-Syiah dari Iraq ke Indonesia? Semua itu berpulang pada pemerintah,” ucapnya.

Bela Tajul Muluk

Lebih jauh, ia juga mengatakan, pihak Syiah akan berusaha bersatu guna membela Tajul Muluk yang kini meringkuk di ruang tahanan di Sampang.

“Saya kira sekarang seluruh komunitas Syiah sekarang bersatu untuk membela seluruh komunitas Syiah bukan saja Tajul Muluk seorang. Begitu naik banding, kita akan berusaha membebaskan Tajul Muluk, “ tambahnya.*

Rep: Sarah Mantovani

Red: Cholis Akbar

http://hidayatullah.com/read/24524/30/08/2012/jalal:–apakah-harus-memindahkan-konflik-sunnah-syiah-dari-iraq-ke-indonesia?.html

gensyiah.com, September 1, 2012

(nahimunkar.com)

Risalah amman adalah bukan hujjah bagi syiah. Jika risalah amman melarang mengkafirkan muslim biasa, bahkan mengkafirkan muslim ahli bid’ah, maka apalagi mengkafirkan khulafaurrasyidin (abu Bakar, Umar, Usman, Ali), mengkafirkan para sahabat nabi (semisal, abu Hurairah, Khalid ibnul Walid, Muawiyyah dll, apalagi mengkafirkan para isteri Nabi i (seperi Aisyah dan Hafshah dll), mengkafirkan para ulama ahlusunnah. (silakan ikuti bantahan kami terhadap buku putih syiah yang penuh tipuan)

Inilah ulasannya.

***

RISALAH AMMAN, RISALAH ORANG YANG LEMAH!

Rislah Amman Menolak Orang yang Mengkafirkan Sahabat dan Isteri Nabi -Shalallahu alaihi wasalam-!

Intinya1:

RIASALAH Amman berawal sebagai penjelasan rinci yang dikeluarkan oleh Raja Abdullah II bin al-Husain, di sore hari tanggal 27 Ramadhan 1425 H/ 2 Nopember 2004 di Amman Yordania – lebih dari satu tahun sebelum peledakan Yordan 9-11-2005- tujuannya: untuk mengumumkan kepada public tentang hakekat Islam atau Islam yang sejati –menurut pemerintah Yordan-; untuk membersihkan apa-apa yang menempel pada Islam padahal tidak ada kaitannya dengan Islam; menerangkan amal-amal apa yang memerankan Islam dan tidak mencerminkan Islam. tujuannya adalah untuk menjelaskan kepada dunia tentang karakteristik hakekat Islam yang sebenarnya.

Demi memberikan legalitas lebih besar untuk penjelasan ini maka Raja Abdullah II mengirimkan 3 pertanyaan kepada 24 ulama besar kaum muslimin yang memiliki kedudukan dari seluruh penjuru dunia Islam, mewakili seluruh madzhab, madrasah pemikiran dalam Islam:

  1. Definisi siapa muslim itu?
  2. Apa boleh takfir (menfonis kafir)?
  3. Siapa yang berhak dalam mengeluarkan fatwa?

Mengacu kepada fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh ulama-ulama besar itu (diantaranya adalah Syaikhul Azhar, Ayatullah al-Sistani, dan Syaikh al-Qaradhawi) maka Raja Abdullah II di bulan Juli 2005 mengundang kepada Muktamar Islam Internasional yang diikuti oleh 200 ulama yang menonjol dari 50 negara, di Amman. Mereka semua mengeluarkan kesepakatan atas 3 masalah utama yang dikenal dengan mahawir risalah Amman al-Tsalatsah/Three Points of the Amman Message/ tiga poin dari pesan Amman:

  1. Setiap pengikut salah satu madzhab ahlussunnah yang empat (hanafi, maliki, syafi’I dan Hanbali), dan madzhab Jakfari2, madzhab zaidi, madzhab ibadhi, madzhab zhahiri, maka dia muslim, tidak boleh dikafirkan3, haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Dan juga berdasarkan fatwa yang mulia syaikh al-Azhar, tidak boleh mengkafirkan para penganut akidah asy’ariyyah, dan orang-orang yang mempraktekkan tasawwuf yang sebenarnya, begitu pula tidak boleh mengkafirkan para pengikut pemikiran salafi yang benar.

Sebagaimana tidak bolehmengkafirkan kelompok lain dari kaum muslimin yang beriman kepada Allah, kepada Rasul-Nya -Shalallahu alaihi wasalam-, beriman kepada rukun iman, menghormati rukun Islam, dan tidak mengingkari sesuatu yang secara pasti dimaklumi bagian dari agama Islam.

  1. Apa yang menghimpun madzhab-madzhab ini lebih banyak dari pada perbedaannya. Pengikut madzhab yang delapan tadi sepakat atas prinsip-prinsip dasar Islam. semuanya mengimani Allah I sebagi satu dan esa, dan bahwa al-Qur`an ini adalah kalamullah yang diturunkan, iman kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagi nabi dan Rasul untuk seluruh umat manusia. Semuanya bersepakat atas rukun Islam yang lima: dua syahadat, shalat, zakat, puasa ramadhan, dan haji ke ka’bah. Dan bersepakat atas rukun iman: iman kepada Allah, para malaikatnya, kitab-kitabnya, para rasulnya, hari akhir dan takdirnya yang baik dan yang buruk. Dan perselisihan para pengikut madzhab adalah khilaf dalam furu` bukan dlam ushul, dan ini adalah rahmat. Dulu dikatakan: sesunggunya khilaf ulama dalam pendapat itu perkara yang baik4.
  2. Mengakui madzhab-madzhab dalam Islam artinya konsisten dengan metodologi tertentu dalam fatwa, maka tidak boleh bagi siapapun untuk maju berfatwa tanpa memiliki keahlian tertentu yang telah ditetapkan oleh masing-masing madzhab. Tidak boleh berfatwa tanpa mengikatkan diri dengan manhajiyyah madzhab-madzhab tadi, dan tidak boleh bagi siapapun mengklaim ijtihad dan membuat madzhab baru atau mendahulukan fatwa yang tertolak yang mengeluarkan kaum muslimin dari kaedah-kaedah syariat dan tsawabitnya (ajaran-ajarannya yang tetap), dan apa-apa yang telah tetap dalam madzhabnya.

Para pemimpin politik dan keagamaan di dunia Islam telah mengambil 3 poin ini secara aklamasi di puncak Organisasi muktamar Islam yang diadakan di Makkah bulan Desember tahun 2005 M, dan sepanjang tahun dari sejak Juli 2005 hingga juli 2006, kemudian 3 poin ini juga diadopsi di 6 muktamar Islam intrnasional yang lain, dan akhirnya adalah muktamar majma’ fikih Islam dunia (yang berpusat di Jedah) yang diadakan di Amman juli 2006. Maka hasilnya lebih dari 500 tokoh Islam yang menonjol dari seluruh dunia Islam menyetujui risalah amman dan poinnya yang tiga. Untuk mengetahui daftar nama-nama tokoh tersebut silakan lihat di:

http://ammanmessage.com/index.php?option=com_content&task=view&id=17&Itemid=31

komentar gensyiah.com:

  1. Risalah amman adalah bukan hujjah bagi syiah. Jika risalah amman melarang mengkafirkan muslim biasa, bahkan mengkafirkan muslim ahli bid’ah, maka apalagi mengkafirkan khulafaurrasyidin (abu Bakar, Umar, Usman, Ali), mengkafirkan para sahabat nabi (semisal, abu Hurairah, Khalid ibnul Walid, Muawiyyah dll, apalagi mengkafirkan para isteri Nabi i (seperi Aisyah dan Hafshah dll), mengkafirkan para ulama ahlusunnah. (silakan ikuti bantahan kami terhadap buku putih syiah yang penuh tipuan)
  2. Risalah Amman bukan hujjah bagi syiah sebatas mengakui madzhab jakfari sebagimana mengakui madzhan ibadhi dan salafi, dan tidak pernah mengakui akidah Rafidhah!
  3. Risalah amman bukan hujjah bagi syiah sebab hanya mengakui khilaf pendapat dan madzhab bukan manhaj dan akidah atau iman.
  4. Risalah Amman tetap mengkafirkan syiah jika mengingkari sesuatu yang dimaklumi sebagai bagian dari Islam, sebagaimana risalah Amman menghalalkan darah muslim yang melanggar hak Islam dengan melakukan dosa yang telah memiliki hudud.
  5. Risalah amman bukan hujjah bagi syiah sebab muslim yang diakui adalah muslim yang mengimani rukun iman yang enam dan rukun Islam yang lima seperti yang dijarkan oleh ahlussunnah, bukan seperti rukun Islam dan imannya syiah rafidhah!
  6. Risalah amman bukan hujjah bagi syiah sebab yang ikut tanda tangan banyak yang ingkar syiah dan menvonis sesat syiah seperti syaikh syekh Abdullah bin Sulaiman al-Mani’, Syekh Shalih alu al-Syekh, bahkan syekh Yusuh al-Qaradhawi5 dll.
  7. Risalah amman adalah risalah yang ditulis oleh orang Islam dalam situasi yang Islam lemah di dalamnya! Perhatikan komentar syekh Ali bin Hasan al-Halabi berikut.

أنا أقول -يا إخواني-: ما كان فيه مثلُ هذا الواقع -الذي ما له مِن دافع-، والكلامُ الذي دُعي وزُعم أنَّه وحدةُ أديانٍ هو كلامٌ مُجمَل؛ لأنَّ الرِّسالةَ -أصلًا- دُبلوماسيَّة؛ الرِّسالة ليست متنَ “كشف الشُّبهات”، ولا متنَ “القواعدِ الأربعة”، ولا متن “المنظومةِ البيقونيَّة”!

Saya katakan wahai saudara-saudaraku: apa yang ada di dalamnya seperti realitas ini- yang tidak bisa ditolak- ucapan yang diklaim sebagai ajakan untuk pluralism agama adalah ucapan yang global, karena sejak asalnya risalah ini bersifat diplomasi, risalah yang tidak seperti risalah “Kasyf al-Subuhat”, tidak seperti matan “al-Qawaid al-Arba’ah, tidak seperti matan “al-Manzhumah al-Baiquniyyah”!

Ini adalah risalah kerajaan, ditulis oleh raja sebuah Negara untuk menerangkan Islam dalam suatu kondisi yang Islam lemah di dalamnya. Apa yang bisa ditulis oleh orang yang lemah? Tidak lain kecuali dia berbicara dengan ungkapan-ungkapan yang bisa mendekatkan pemahaman-pemahan dan menjauhkan dari tuduhan-tuduhan?!

وهذه الرِّسالة كتبها إنسانٌ مسلم يَعتزُّ بإسلامِه، يعتزُّ بنَسَبِه الموصولِ بالرَّسولِ -عليهِ الصَّلاةُ والسَّلام-على ما عندهُ مِن أخطاء، وعلى ما عندهُ من تقصير-

Ini risalah ditulis oleh seorang yang bangga dengan keIslamannya, bangga dengan dengan nasabnya yang sambung dengan Rasul ‘alaihis shalatu wassalam, dengan segala kesalahan dan kekurangan yang ada padanya.

فالتعاملُ مع الأمر الواقع -الذي ما له من دافع- قد لا يستوفي -أحياناً-شروطَ بعض الأحكام النظرية -قبل أن تقع- ؛ مما يجعل الفقيه -بحقّ- ينظر إلى فقه المسألة من هذه الزاوية الدقيقة ، مع مراعاته ضبطَ الحكم -من هذه الجهة-بصورة ترجح المصالح على المفاسد-ضمن الأصول الشرعية-.

Maka mensikapi kondisi seperti ini –yang tidak punya kuasa untuk menolak- yang terkadang tidak terpenuhi syarat-syarat sebagian hokum teori –sebelum terjadinya-, hal mana menjadikan seorang fakih –dengan benar- melihat kepada fikih masalah dari celah yang sempit ini, yang disertai dengan memperhatikan batasan-batasan hokum –dari arah ini- dalam bentuk mengunggulkan masalahat-masalahat atas kerusakan-kerusakan –sesuai dengan ushul syar’i-.

Semoga bermanfaat!

  1. ammanmessage.com/index.php?option=com_content&task=view&id=17&Itemid=31
  2. Padahal madzhab jakfari itu dongeng, silakan ikuti makalah kami tentang dongeng madzhab fikih jakfari di gensyiah.com.
  3. Kecuali jika melanggar hak Islam yang membuatnya murtad/kafir sebagaimana maklum dalam Islam. ini bicara fikih soal furu’, bukan ushul.
  4. Ya yang baik itu khilaf pendapat bukan khilaf akidah dan iman, seperti khilafnya ahlussunnah, khawarij dan syiah, sebaigaimana yang telah dirasakan oleh sejarah sejak kemunculan mereka hingga saat ini.
  5. http://www.lppimakassar.com/2012/09/fatwa-terbaru-syaikh-yusuf-al-qaradhawi.html

http://www.gensyiah.com/risalah-amman-risalah-orang-yang-lemah.html

November 8, 2012

(nahimunkar.com)

apa-perbedaan-antara-ahlussunnah-dengan-syiah02apa-perbedaan-antara-ahlussunnah-dengan-syiah01Pilgrims travel to Karbala. iranian.com. Ka’bah. kopral80.blogspot.com

 

Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki.

Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan ?.

Oleh karena itu, disaat Muslimin bangun melawan serangan Syiah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah.

Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui.

Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya.

Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzahab Syafi’i.

Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.

Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita (Ahlussunnah).

Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.

Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri.

Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).

1. Ahlussunnah:

Rukun Islam kita ada 5 (lima)

a) Syahadatain

b) As-Sholah

c) As-Shoum

d) Az-Zakah

e) Al-Haj

Syiah:

Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:

a) As-Sholah

b) As-Shoum

c) Az-Zakah

d) Al-Haj

e) Al wilayah

 

2. Ahlussunnah:

Rukun Iman ada 6 (enam) :

a) Iman kepada Allah

b) Iman kepada Malaikat-malaikat Nya

c) Iman kepada Kitab-kitab Nya

d) Iman kepada Rasul Nya

e) Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat

f) Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.

Syiah:

Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)*

a) At-Tauhid

b) An Nubuwwah

c) Al Imamah

d) Al Adlu

e) Al Ma’ad

 

3. Ahlussunnah:

Dua kalimat syahadat

Syiah:

Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka.

 

4. Ahlussunnah:

Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat.

Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.

Syiah:

Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka.

 

5. 5.Ahlussunnah:

Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah :

a) Abu Bakar

b) Umar

c) Utsman

d) Ali Radhiallahu anhum

Syiah:

Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka).

 

6. Ahlussunnah:

Khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum.

Berarti mereka dapat berbuat salah/ dosa/ lupa. Karena sifat Ma’shum, hanya dimiliki oleh para Nabi.

Syiah:

Para imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat Ma’’hum, seperti para Nabi.

 

7. Ahlussunnah:

Dilarang mencaci-maki para sahabat.

Syiah:

Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai’at Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.

 

8. Ahlussunnah:

Siti Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu’minin.

Syiah:

Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan.

 

9. Ahlussunnah:

Kitab-kitab hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah Kutubussittah:

a) Bukhari

b) Muslim

c) Abu Daud

d) Turmudzi

e) Ibnu Majah

f) An Nasa’i

(kitab-kitab tersebut beredar dimana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin sedunia).
Syiah:

Kitab-kitab Syiah ada empat:

a) Al Kaafi

b) Al Istibshor

c) Man Laa Yahdhuruhu Al Faqih

d) Att Tahdziib

(Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syiah).

 

10. Ahlussunnah:

Al-Qur’an tetap orisinil

Syiah
:
Al-Qur’an yang ada sekarang ini menurut pengakuan ulama Syiah tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah).

 

11. Ahlussunnah:

Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul Nya.
Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul Nya.

Syiah:

Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, walaupun orang tersebut tidak taat kepada Rasulullah.

Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada Rasulullah.

 

12. Ahlussunnah:

Aqidah Raj’ah tidak ada dalam ajaran Ahlussunnah. Raj’ah adalah besok di akhir zaman sebelum kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya.

Syiah:

Raj’ah adalah salah satu aqidah Syiah. Dimana diceritakan : bahwa nanti di akhir zaman, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah serta Ahlul Bait yang lain.

Setelah mereka semuanya bai’at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai ribuan kali. Sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait.

Keterangan:

Orang Syiah mempunyai Imam Mahdi sendiri. Berlainan dengan Imam Mahdinya Ahlussunnah, yang akan membawa keadilan dan kedamaian.

 

13. Ahlussunnah:

Mut’ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram.

Syiah:

Mut’ah sangat dianjurkan dan hukumnya halal. Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syiah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syiah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib.

 

14. Ahlussunnah:

Khamer/ arak tidak suci.

Syiah:

Khamer/ arak suci.

 

15. Ahlussunnah:

Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak suci.

Syiah:

Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan.

 

16. Ahlussunnah:

Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah.

Syiah:

Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri membatalkan shalat.

 

17. Ahlussunnah:

Mengucapkan Amin di akhir surat Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah.

Syiah:

Mengucapkan Amin di akhir surat Al-Fatihah dalam shalat dianggap tidak sah/ batal shalatnya.

(Jadi shalatnya Muslimin di seluruh dunia dianggap tidak sah, karena mengucapkan Amin dalam shalatnya).

 

18. Ahlussunnah:

Shalat jama’ diperbolehkan bagi orang yang bepergian dan bagi orang yang mempunyai udzur syar’i.
Syiah:

Shalat jama’ diperbolehkan walaupun tanpa alasan apapun.

 

19. Ahlussunnah:

Shalat Dhuha disunnahkan.

Syiah:

Shalat Dhuha tidak dibenarkan.

(padahal semua Auliya’ dan salihin melakukan shalat Dhuha).

 

Demikian telah kami nukilkan perbedaan-perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sengaja kami nukil sedikit saja, sebab apabila kami nukil seluruhnya, maka akan memenuhi halaman-halaman buku ini.

Harapan kami semoga pembaca dapat memahami benar-benar perbedaan-perbedaan tersebut. Selanjutnya pembaca yang mengambil keputusan (sikap).

Masihkah mereka akan dipertahankan sebagai Muslimin dan Mukminin ? (walaupun dengan Muslimin berbeda segalanya).

Sebenarnya yang terpenting dari keterangan-keterangan di atas adalah agar masyarakat memahami benar-benar, bahwa perbedaan yang ada antara Ahlussunnah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) itu, disamping dalam Furuu’ (cabang-cabang agama) juga dalam Ushuul (pokok/ dasar agama).

Apabila tokoh-tokoh Syiah sering mengaburkan perbedaan-perbedaan tersebut, serta memberikan keterangan yang tidak sebenarnya, maka hal tersebut dapat kita maklumi, sebab mereka itu sudah memahami benar-benar, bahwa Muslimin Indonesia tidak akan terpengaruh atau tertarik pada Syiah, terkecuali apabila disesatkan (ditipu).

Oleh karena itu, sebagian besar orang-orang yang masuk Syiah adalah orang-orang yang tersesat, yang tertipu oleh bujuk rayu tokoh-tokoh Syiah.

Akhirnya, setelah kami menyampaikan perbedaan-perbedaan antara Ahlussunnah dengan Syiah, maka dalam kesempatan ini kami menghimbau kepada Alim Ulama serta para tokoh masyarakat, untuk selalu memberikan penerangan kepada umat Islam mengenai kesesatan ajaran Syiah. Begitu pula untuk selalu menggalang persatuan sesama Ahlussunnah dalam menghadapi rongrongan yang datangnya dari golongan Syiah. Serta lebih waspada dalam memantau gerakan Syiah di daerahnya. Sehingga bahaya yang selalu mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita dapat teratasi.

Selanjutnya kami mengharap dari aparat pemerintahan untuk lebih peka dalam menangani masalah Syiah di Indonesia. Sebab bagaimanapun, kita tidak menghendaki apa yang sudah mereka lakukan, baik di dalam negri maupun di luar negri, terulang di negara kita.

Semoga Allah selalu melindungi kita dari penyesatan orang-orang Syiah dan aqidahnya. Amin.

Sumber:”Albayyinat.net”

(nahimunkar.com)

http://i2.wp.com/nahimunkar.com/wp-content/uploads/2013/01/Daulah-Syiah_8346537532.jpg?resize=499%2C398SESUNGGUHNYA sejarah telah menyatakan, bahwa daulah Syiah sejak dahulu tidak pernah mengusik dan memerangi golongan kuffar. Diantaranya:

  1. Daulah Syiah Al-Buwaihiyyah tidak memerangi daulah Bizantium Nasrani, tetapi malah memerangi daulah Abbasiyah Sunni.
  2. Daulah Syiah Al-‘Abidiyah (Daulah Fatimiyyah) tidak memerangi pasukan salib Kristian di Andalusia Utara, melainkan membantu mereka dalam memerangi Daulah Abdurrohman An-Nashir Sunni di Andalusia Selatan.
  3. Daulah Syiah Al-‘Abidiyah di Mesir tidak memerangi pasukan salib Kristian ketika terjadi peperangan di Syam, maupun Palestina. Melainkan membantu mereka dalam memerangi pasukan Daulah As-Salajiqoh Sunni.
  4. Daulah Syiah As-Sofawiyyah tidak memerangi Perancis, Inggeris, dan Rusia, melainkan memerangi Daulah Turki Utsmani.
  5. Daulah Syiah Iran tidak memerangi Rusia, tetapi malah menangkap dan memerangi pejuang Afghanistan. Dan tidak memerangi Amerika maupun Israel, melainkan memerangi Iraq. [sumber: menjawab & membongkar syiah]

By Admin Islampos on January 12, 2013

Kesesatan syiah dan  berbagai aliran dapat dibaca di buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia.  Sesatnya syi’ah dan aneka penyimpangan lain serta Ahmadiyah dan kitab Tadzkirah dan rangkaiannya, dapat dibaca di buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul Kyai kok Bergelimang Kemusyrikan, terbitan Saudi Arabia, dan terbitan Surabaya, Pustaka Nahi Munkar. (Pustaka Nahi Munkar Surabaya, 031 70595271, 5911584 atau 08123125427, dan Jakarta Toko Buku Fithrah 021 8655824, 71490693, HP. 081319510114).

  • Memprihatinkan, ada oknum-oknum yang tidak jelas aqidahnya menyuara dengan membela syi’ah yang jelas sesat itu.
  • Ada sejumlah kesesatan dalam keyakinan batil syi’ah yang bagaimanapun juga tidak dapat dihubungkan atau dikaitkan dengan Islam yang dibawa Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah Ta’ala. Keyakinan-keyakinan batil yang sangat jauh dari Islam itu ada dalam kitab-kitab induk syi’ah. Sehingga sebenarnya mereka tidak dapat mengelak lagi, kecuali dengan dusta atau taqiyyah model syi’ah.
  • Berikut ini pokok-pokok kesesatan syiah yang penting untuk difahami. Semoga manfaat, hingga kita  mampu menjauhi agama sesat itu dan tidak membelanya lagi dengan dalih apapun. Dan kita sama sekali tidak pantas untuk meniru jejak oknum-oknum yang aqidahnya tidak jelas yang membela syiah.
  • Tulisan ini terasa penting sekali, karena Ummat Islam Indonesia ini  perlu prihatin. Bagaimana tidak prihatin, lha wong kini bermunculan orang-orang yang tidak jelas aqidahnya, menyuara tanpa dalil yang benar, bernada membela syiah. Padahal dalam kasus syiah Madura, syiah itu jelas telah ditolak Ummat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah di sana. Bahkan MUI Sampang telah menegaskan sesatnya Syi’ah di sana.  Maka penjelasan ini sekali lagi sangat penting diresapi dan dijadikan pelajaran benar-benar dan semoga bermanfaat. Selamat  menyimak.

***

Pokok-pokok Kesesatan Syi’ah

darulkautsar.net ar-ar.facebook.com

الشيعه الاثنى عشريه‏

Asal-usul Syi’ah

Syi’ah secara etimologi bahasa berarti pengikut, sekte dan golongan. Sedangkan dalam istilah Syara’, Syi’ah adalah suatu aliran yang timbul sejak pemerintahan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu yang dikomandoi oleh Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi dari Yaman. Setelah terbunuhnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, lalu Abdullah bin Saba’ mengintrodusir ajarannya secara terang-terangan dan menggalang massa untuk memproklamirkan bahwa kepemimpinan (baca: imamah) sesudah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebenarnya ke tangan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu karena suatu nash (teks) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut.

Keyakinan itu berkembang sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib. Berhubung hal itu suatu kebohongan, maka diambil tindakan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, yaitu mereka dibakar, lalu sebagian mereka melarikan diri ke Madain.

Aliran Syi’ah pada abad pertama hijriyah belum merupakan aliran yang solid sebagai trend yang mempunyai berbagai macam keyakinan seperti yang berkembang pada abad ke-2 Hijriyah dan abad-abad berikutnya.

Pokok-Pokok Penyimpangan Syi’ah pada Periode Pertama :

  1. Keyakinan bahwa imam sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Ali bin Abi Thalib, sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu para Khalifah dituduh merampok kepemimpinan dari tangan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
  2. Keyakinan bahwa imam mereka maksum (terjaga dari salah dan dosa).
  3. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam yang telah wafat akan hidup kembali sebelum hari Kiamat untuk membalas dendam kepada lawan-lawannya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dan lain-lain.
  4. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam mengetahui rahasia ghaib, baik yang lalu maupun yang akan datang. Ini berarti sama dengan menuhankan Ali dan Imam.
  5. Keyakinan tentang ketuhanan Ali bin Abi Thalib yang dideklarasikan oleh para pengikut Abdullah bin Saba’ dan akhirnya mereka dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu karena keyakinan tersebut.
  6. Keyakinan mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Padahal Ali sendiri mengambil tindakan hukum cambuk 80 kali terhadap orang yang meyakini kebohongan tersebut.
  7. Keyakinan mencaci maki para Sahabat atau sebagian Sahabat seperti Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.(lihat Dirasat fil Ahwaa’ wal Firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minhaa, Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql hal. 237).
  8. Pada abad ke-2 Hijriyah, perkembangan keyakinan Syi’ah semakin menjadi-jadi sebagai aliran yang mempunyai berbagai perangkat keyakinan baku dan terus berkembang sampai berdirinya dinasti Fathimiyyah di Mesir dan dinasti Sofawiyah di Iran. Terakhir aliran tersebut terangkat kembali dengan revolusi Khomaini dan dijadikan sebagai aliran resmi negara Iran sejak 1979.

Pokok-Pokok Penyimpangan Syi’ah Secara Umum :

1. Pada Rukun Iman :

Syi’ah hanya memiliki 5 rukun iman, tanpa menyebut keimanan kepada para Malaikat, Kitab Allah, Rasul dan Qadha dan Qadar, yaitu :

1. Tauhid (keesaan Allah),

2. Al-’Adl (keadilan Allah)

3. Nubuwwah (kenabian),

4. Imamah (kepemimpinan Imam),

5. Ma’ad (hari kebangkitan dan pembalasan).

(Lihat ‘Aqa’idul Imamiyah oleh Muhammad Ridha Mudhoffar dll).

2. Pada Rukum Islam :

Syi’ah tidak mencantumkan Syahadatain dalam rukun Islam, yaitu :

1.Shalat,
2.Zakat,
3.Puasa,
4.Haji,
5.Wilayah (perwalian) (lihat Al-Kafie juz II hal 18)

3. Syi’ah meyakini bahwa Al-Qur’an sekarang ini telah dirubah,

ditambahi atau dikurangi dari yang seharusnya, seperti :

وَ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنا عَلى عَبْدِنا فِي عَلِيٍّ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ (الكافي ج 1 ص 417.)

“wa inkuntum fii roibim mimma nazzalna ‘ala ‘abdina FII ‘ALIYYIN fa`tu bi shuratim mim mits lih ” (Al-Kafie, Kitabul Hujjah: I/417)

Ada tambahan “fii ‘Aliyyin” dari teks asli Al-Qur’an yang berbunyi :

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ [البقرة/23]

“wa inkuntum fii roibim mimma nazzalna ‘ala ‘abdina fa`tu bi shuratim mim mits lih” (Al-Baqarah:23)

Karena itu mereka meyakini bahwa : Abu Abdillah a.s (imam Syi’ah) berkata: “Al-Qur’an yang dibawa oleh Jibril a.s. kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 17.000 ayat (Al-Kafi fil Ushul Juz II hal.634). Al-Qur’an mereka yang berjumlah 17.000 ayat itu disebut Mushaf Fatimah (lihat kitab Syi’ah Al-Kafi fil Ushul juz I hal 240-241 dan Fashlul Khithab karangan An-Nuri Ath-Thibrisy).

4. Syi’ah meyakini bahwa para Sahabat sepeninggal Nabi

hallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka murtad, kecuali beberapa orang saja, seperti: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifary dan Salman Al-Farisy (Ar Raudhah minal Kafi juz VIII hal.245, Al-Ushul minal Kafi juz II hal 244).

5. Syi’ah menggunakan senjata “taqiyyah” yaitu berbohong,

dengan cara menampakkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya, untuk mengelabui (Al Kafi fil Ushul Juz II hal.217).

6. Syi’ah percaya kepada Ar-Raj’ah yaitu kembalinya roh-roh

ke jasadnya masing-masing di dunia ini sebelum Qiamat dikala imam Ghaib mereka keluar dari persembunyiannya dan menghidupkan Ali dan anak-anaknya untuk balas dendam kepada lawan-lawannya.

7. Syi’ah percaya kepada Al-Bada’, yakni tampak bagi Allah

dalam hal keimaman Ismail (yang telah dinobatkan keimamannya oleh ayahnya, Ja’far As-Shadiq, tetapi kemudian meninggal disaat ayahnya masih hidup) yang tadinya tidak tampak. Jadi bagi mereka, Allah boleh khilaf, tetapi Imam mereka tetap maksum (terjaga).

8.Syi’ah membolehkan “nikah mut’ah”, yaitu nikah kontrak

dengan jangka waktu tertentu (lihat Tafsir Minhajus Shadiqin Juz II hal.493). Padahal hal itu telah diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib sendiri.

Nikah Mut’ah

Nikah mut’ah ialah perkawinan antara seorang lelaki dan wanita dengan maskawin tertentu untuk jangka waktu terbatas yang berakhir dengan habisnya masa tersebut, dimana suami tidak berkewajiban memberikan nafkah, dan tempat tinggal kepada istri, serta tidak menimbulkan pewarisan antara keduanya.

Ada 6 perbedaan prinsip antara nikah mut’ah dan nikah sunni (syar’i) :

  1. Nikah mut’ah dibatasi oleh waktu, nikah sunni tidak dibatasi oleh waktu.
  2. Nikah mut’ah berakhir dengan habisnya waktu yang ditentukan dalam akad atau fasakh, sedangkan nikah sunni berakhir dengan talaq atau meninggal dunia.
  3. Nikah mut’ah tidak berakibat saling mewarisi antara suami istri, nikah sunni menimbulkan pewarisan antara keduanya.
  4. Nikah mut’ah tidak membatasi jumlah istri, nikah sunni dibatasi dengan jumlah istri hingga maksimal 4 orang.
  5. Nikah mut’ah dapat dilaksanakan tanpa wali dan saksi, nikah sunni harus dilaksanakan dengan wali dan saksi.
  6. Nikah mut’ah tidak mewajibkan suami memberikan nafkah kepada istri, nikah sunni mewajibkan suami memberikan nafkah kepada istri.

Dalil-Dali Haramnya Nikah Mut’ah

Haramnya nikah mut’ah berlandaskan dalil-dalil hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga pendapat para ulama dari 4 madzhab.

Dalil dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim menyatakan bahwa dari Sabrah bin Ma’bad Al-Juhaini, ia berkata: “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan haji. Pada suatu saat kami berjalan bersama saudara sepupu kami dan bertemu dengan seorang wanita. Jiwa muda kami mengagumi wanita tersebut, sementara dia mengagumi selimut (selendang) yang dipakai oleh saudaraku itu. Kemudian wanita tadi berkata: “Ada selimut seperti selimut”. Akhirnya aku menikahinya dan tidur bersamanya satu malam. Keesokan harinya aku pergi ke Masjidil Haram, dan tiba-tiba aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berpidato diantara pintu Ka’bah dan Hijr Ismail. Beliau bersabda,

« يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّى قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِى الاِسْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَىْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهُ وَلاَ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا ».

“Wahai sekalian manusia, aku pernah mengizinkan kepada kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Maka sekarang siapa yang memiliki istri dengan cara nikah mut’ah, haruslah ia menceraikannya, dan segala sesuatu yang telah kalian berikan kepadanya, janganlah kalian ambil lagi. Karena Allah ‘azza wa jalla telah mengharamkan nikah mut’ah sampai Hari Kiamat. (Shahih Muslim II/1024)

Dalil hadits lainnya:

أَنَّ عَلِيًّا – رضى الله عنه – قَالَ لاِبْنِ عَبَّاسٍ إِنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – نَهَى عَنِ الْمُتْعَةِ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الأَهْلِيَّةِ زَمَنَ خَيْبَرَ . رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ فِى الصَّحِيحِ

Dari Ali bin Abi Thalib ra. ia berkata kepada Ibnu Abbas ra bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah dan memakan daging keledai jinak pada waktu perang Khaibar (Fathul Bari IX/71)

Pendapat Para Ulama

Berdasarkan hadits-hadits tersebut diatas, para ulama berpendapat sebagai berikut:

  • Dari Madzhab Hanafi, Imam Syamsuddin Al-Sarkhasi (wafat 490 H) dalam kitabnya Al-Mabsuth (V/152) mengatakan: “Nikah mut’ah ini bathil menurut madzhab kami. Demikian pula Imam Ala Al Din Al-Kasani (wafat 587 H) dalam kitabnya Bada’i Al-Sana’i fi Tartib Al-Syara’i (II/272) mengatakan, “Tidak boleh nikah yang bersifat sementara, yaitu nikah mut’ah”.
  • Dari Madzhab Maliki, Imam Ibnu Rusyd (wafat 595 H) dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayah Al-Muqtashid (IV/325 s.d 334) mengatakan, “hadits-hadits yang mengharamkan nikah mut’ah mencapai peringkat mutawatir” Sementara itu Imam Malik bin Anas (wafat 179 H) dalam kitabnya Al-Mudawanah Al-Kubra (II/130) mengatakan, “Apabila seorang lelaki menikahi wanita dengan dibatasi waktu, maka nikahnya batil.”
  • Dari Madzhab Syafi’, Imam Syafi’i (wafat 204 H) dalam kitabnya Al-Umm (V/85) mengatakan, “Nikah mut’ah yang dilarang itu adalah semua nikah yang dibatasi dengan waktu, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, seperti ucapan seorang lelaki kepada seorang perempuan, aku nikahi kamu selama satu hari, sepuluh hari atau satu bulan.” Sementara itu Imam Nawawi (wafat 676 H) dalam kitabnya Al-Majmu’ (XVII/356) mengatakan, “Nikah mut’ah tidak diperbolehkan, karena pernikahan itu pada dasarnya adalah suatu aqad yang bersifat mutlaq, maka tidak sah apabila dibatasi dengan waktu.”
  • Dari Madzhab Hambali, Imam Ibnu Qudamah (wafat 620 H) dalam kitabnya Al-Mughni (X/46) mengatakan, “Nikah Mut’ah ini adalah nikah yang bathil.” Ibnu Qudamah juga menukil pendapat Imam Ahmad bin Hambal (wafat 242 H) yang menegaskan bahwa nikah mut’ah adalah haram.

Dan masih banyak lagi kesesatan dan penyimpangan Syi’ah. Kami ingatkan kepada kaum muslimin agar waspada terhadap ajakan para propagandis Syi’ah yang biasanya mereka berkedok dengan nama “Wajib mengikuti madzhab Ahlul Bait”, sementara pada hakikatnya Ahlul Bait berlepas diri dari mereka, itulah manipulasi mereka. Semoga Allah selalu membimbing kita ke jalan yang lurus berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih. Lebih lanjut bagi yang ingin tahu lebih banyak, silakan membaca buku kami “Mengapa Kita Menolah Syi’ah”.

Rujukan:

1. Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql, Dirasat fil ahwa wal firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minha.

2. Drs. KH Dawam Anwar dkk, Mengapa Kita menolak Syi’ah.

3. H. Hartono Ahmad Jaiz, Di Bawah Bayang-bayang Soekarno-Soeharto.

4. Abdullah bin Sa’id Al-Junaid, Perbandingan antara Sunnah dan Syi’ah.

5. Dan lain-lain, kitab-kitab karangan orang Syi’ah.

Sumber : Buletin Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) dengan diberi teks hadits oleh nahimunkar.com.

Masjid Al-Ihsan Lt.III Proyek Pasar Rumput Jakarta 12970 Telp/Fax. (021)8281606

(nahimunkar.com)